Hari Untuk Ayah

6029_10153437488262872_3160395912356592117_n

Dear Ayah: KM. Isa Ansori

Ayah,

Terkadang aku bertanya-tanya bagaimana Ayah kecil membayangkan masa tuanya? Seperti sekarangkah? Menjadi ayah dari lima anak, sibuk berdagang, dan dikelilingi cucu-cucu serta kucing-kucing? Ah sepertinya Ayah kecil tak pernah memikirkan itu karena terlalu sibuk berpetualang. Mengukir pengalaman-pengalaman menakjubkan.

Yah, aku selalu senang mendengar kisah-kisahmu kecilmu. Tentang sungai-sungai bersih, petualangan di hutan, bertemu buaya dan harimau, juga kura-kura besar yang cangkangnya Ayah belah memakai samurai. Aku juga tak lupa bahwa di balik jiwa petualang Ayah, Ayah kecil adalah kutu buku yang suka melalap bermacam buku bantal hasil pinjaman dari tetanggamu yang seorang guru.

Ayah, kegandrunganku pada kucing sepertinya diturunkan olehmu. Seingatku, dari semenjak kecil, di rumah kita tak pernah absen dari kehadiran kucing. Namanya aneh-aneh, dari mulai Otot, Oting, dan O-O lainnya. Sampai sekarang, pagi Ayah seringkali diisi dengan memberi kucing-kucing di rumahku sisa makanan dari rumah Ayah. Aku sudah hafal benar, biasanya jam setengah tujuh pagi, akan terdengar suara gemerincing kunci bertemu gemboknya. Kemudian disusul suara eongan kucing-kucing menyambut Ayah. Mereka pasti bahagia benar melihat kedatangan Ayah. Lalu Ayah akan memeriksa air pam, apakah lancar atau macet, memastikan rumah kembar dan penyewa di depan tak kekurangan pasokan air. Terkadang Ayah membangunkanku yang sedang tidur-tidur ayam, untuk memberikan paket, atau sekadar mengobrol-ngobrol ringan.

Ayah, waktu kutanya apakah Ayah bosan dengan rutinitas itu-itu saja? Ayah jawab tidak. Ayah sepertinya jarang sekali merindukan perjalanan apalagi petualangan. Mungkin pikiran Ayah telah terlalu sibuk memikirkan kami anak-anak dan cucumu. Aku memerhatikan, mata Ayah selalu dipenuhi binar ketika bermain bersama para cucu. Meski terkadang aku memergoki kekhawatiran di sana. Mungkin memikirkan masa depan mereka di dunia yang makin absurd. Tenanglah, Ayah, manusia punya kemampuan adaptasi yang luar biasa.

Ayah, meski Ayah tak keberatan menjalani hari yang isinya berulang. Aku, Evi, dan Teh Yunis ingin sesekali mewarnai harimu dengan sesuatu yang baru. Kami pernah merancang satu hari bersama Ayah. Hari itu kita akan makan makanan kesukaan Ayah, apa saja. Lalu kita menonton film ke bioskop, tentunya genre film action biar seru. Setelahnya, kita minum kopi favorit Ayah, dengan aromanya yang khas Ayah. Kami berharap itu jadi hari sempurna untuk Ayah. Seperti Ayah selalu berusaha menyenangkan kami sejak kecil. Tapi ternyata Ayah tidak mau. Ayah lebih memilih menghabiskan hari seperti biasanya. Mungkin buat Ayah, rutinitas bukan jebakan, tapi keindahan tersendiri.

Kami kemudian bingung bagaimana cara membahagiakan Ayah. Namun diam-diam kami tahu jawabannya. Pernah suatu kali seorang kurir mengantarkan paket berisi bukuku dan Evi. Ayah bertanya, “Bukunya cetak ulang?” Ayah, rupanya Ayah selalu berharap dan mendoakan kesuksesan kami. Ayah memang selalu memberi dukungan pada impian-impian kami. Sekalipun impian itu membuat orang melontarkan kata-kata nyinyir, “Anak-anak Bapak padahal lulus sekolah semua, tapi enggak mau kerja.” Mereka tidak paham, kalau pekerjaan anak-anak Ayah bukan jenis yang pergi pukul 8 pulang jam 5. Tapi Ayah menerimakan itu. Ayah, sungguh pun aku tak pernah diam, kami pun selalu ingin menemu hari dimana Ayah bangga menjadi Ayah kami.ย Tapi… Aku yakin, hari-hari itu telah menjelma seumur kelahiran kami. Sekalipun di hari paling sedih.

Ayah, aku tak pernah lupa, saat-saat Ayah menghiburku dalam diam. Lewat tepukan di bahu atau pelukan. Ayah yang selalu membelaku dan pasang badan ketika badai menghantam.

Ayah, terima kasih telah memberi cinta paling tulus. Jangan pernah berpikir tak pernah membahagiakan kami. Karena aku sangat bahagia menjadi anakmu, selamanya.

 

10487424_10152651653637872_700087014088328478_n

Advertisements

5 thoughts on “Hari Untuk Ayah

  1. Wuaaaaaa…sedih aku baca ini. Inget ayahku rahimahullah yg sudah meninggal 2009 lalu. Ayahku meninggal tgl 28 februari.. dan hingga bulan april, mei, juni…aku tetap berharap pagi2 mendengar suara ketukan di pintu rumahku krn tiap pagi ayah selalu mampir ke rumahku untuk baca koran hari ini. Lalu ngobrol ringan..atau sekedar memeriksa genting apakah ada yg bocor… atau melihat halaman apakah ada rumput liar yg muncul. Jika ada dia iseng mencabutnya. Jam 9 pagi dia kembali pulang ke rumahnya lagi. Setelah ayah meninggal aku merindukan semua rutinitas dia di pagi hari. Kadang aku duduk menunggu di ruang tamu sekedar berharap dia datang mengetuk pintu. Lalu menangis krn harapan itu tidak pernah terwujud. Hiks..sedih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s