Kisah Kita Di Negeri Realita

IMG_20150919_212948

Dear Prajurit Rumput: Fuan Fauzi

Tak terasa telah bertahun-tahun kamu menjadi bagian dari hidupku, memenuhi hari-hariku dengan keberadaanmu. Aku tak tahu apa yang terjadi pada kisah dalam dongeng setelah Pangeran dan Putri menikah. Hari-hari seperti apa yang mereka lewati, karena hanya ada satu kalimat untuk mengakhiri kisah mereka “happily ever after“. Tapi kisah kita terus berlanjut, dengan banyak kata merangkai jutaan kalimat. Tiga kata itu rasanya tidak cukup menggambarkan cerita kita yang kadang begitu rumit, kadang sangat bersahaja.

Prajurit Rumput, hampir tiap hari aku membuka hari dengan sodoran segelas air putih di tanganmu. Katamu aku selalu kurang minum. Lalu kamu akan memulai ceramah kesehatan tentang pentingnya cukup minum air putih dan olahraga setiap hari. Yang tentu saja kudengarkan dengan ogah-ogahan. Namun begitulah, kalau seorang Dewi dalam lagu “Curhat Buat Sahabat” menanti seseorang biasa saja dengan segelas air di tangannya, aku telah menemukan orang itu. Kamu.

Prajurit Rumput, kamu juga yang selalu merawatku saat sakit, apalagi sakit sepulang bepergian. Aku hafal urutan kecemasanmu. Malam sebelum aku berangkat, kamu akan sibuk memastikan kalau aku sudah mengepak barang yang kubutuhkan. Paginya, kamu akan merajuk sedih karena aku akan pergi. Dalam perjalanan, kamu mengingatkanku menjaga kesehatan. Ketika aku berkegiatan, bahkan kamu tahu apa yang kulakukan. Seperti kamu benar-benar ada di sisiku. Lalu menjelang kepulanganku, katamu, aku pasti akan masuk angin dan sampai rumah dengan kepala migrain. Dan memang itulah yang terjadi. Ketika kutanya kenapa tebakanmu selalu benar? Kamu menjawab, “Karena aku sangat mengenalmu.”

Prajurit Rumput, setelah ritual minum air putih (paksa), biasanya kamu akan membereskan rumah. Kamu tidak keberatan berbagi tugas domestik denganku, malah lebih bersemangat. Sepertinya beres-beres sudah jadi hobimu. Meskipun kamu akan misuh-misuh saat melihat pup kucing kita yang sembarangan, tapi tetap mau membersihkannya. Kadangkala, kamu pun memandikan kucing kecil supaya Putri Rasi bisa tenang bermain dengannya.

Sebelum berangkat kerja atau sepulangnya, kamu akan menyempatkan diri mengajari Putri Rasi berbagai hal. Mengajarinya mengaji, menghafal doa-doa pendek, bahkan kamu menempelkan tulisan doa-doa itu di seluruh penjuru rumah kita, supaya Putri Rasi tidak lupa. Kamulah yang mengisi apa-apa yang tidak bisa kuajarkan pada Putri Rasi. Ketika aku harus bepergian untuk pekerjaan, kamu bahkan menjagakan Putri Rasi untukku. Kamu sungguh selalu mendapat cara membuatku terharu.

IMG_20151130_162811

 

IMG_20150722_165030

 

IMG_20151017_183553

Prajurit Rumput, kamu pasti sudah bosan mendengarku mengeluhkan tentang partner brainstorming. Kataku, aku selalu membutuhkan teman diskusi. Teman yang mengerti pemikiran, mendengarkan ledakan ide-ide dari kepalaku, atau sekadar menceritakan apa yang kudapat dari membaca dan menonton film. Kamu kemudian berusaha memenuhi itu. Sampai di satu titik, aku terkagum-kagum dengan pengetahuanmu. Ternyata kamu ingin menjadi sahabat diskusi yang baik untukku, karena itu kamu kemudian banyak membaca, belajar banyak hal, dan menonton film. Kamu ingin memenuhi dahagaku akan diskusi dengan kehadiranmu. Akhirnya kita seringkali terlibat diskusi absurd. Pendapatmu dan pendapatku seringkali tak bertemu. Kadang aku jadi kesal karena kalah berdebat. Tapi diam-diam aku menyukai itu. Karena dengan begitu, kamu teguh pada prinsipmu. Kamu pun semakin objektif menilai karyaku. Yang bagus kamu bilang bagus, yang jelek kamu sebut jelek.

Prajurit Rumput, saat-saat yang menyenangkan bagiku juga adalah ketika kita berkolaborasi. Bekerja denganmu terkadang memang ribet, tapi menyenangkan. Aku selalu bahagia melihatmu berproses. Dari karya yang menurutku horor saking anehnya, sampai menjadi karya yang membuatku tak berhenti mengulum senyum. Kamu, adalah lelaki yang berhasil memasuki ranah impianku. Yang membuatku selalu melibatkanmu dalam imaji mimpi-mimpiku.

Prajurit Rumput, dari semua perlakuanmu untuk menyenangkanku, yang menggelikan adalah kamu mengalah menonton drama Korea denganku. Kalau biasanya aku akan menonton sendiri, kini kamu menemaniku. Meskipun sering diam-diam aku tetap menonton kelanjutannya sendiri, karena tak sabar menunggumu pulang kerja. Lucunya, kamu sering jengkel kalau aku bilang pemeran utamanya ganteng. Kamu yang cemburuan itu terlihat menggemaskan sekaligus menyebalkan ^^V

Prajurit Rumput, kita memang tak hidup di negeri dongeng, tapi di negeri realita. Tak seperti Pangeran dan Putri, Ratu Dandelion dan Prajurit Rumput seringkali bersitegang, karena adakalanya kita saling salah paham, bahkan saling menyakiti. Namun kedatangan gelombang mungkin serupa pertanda, buku yang memuat kisah kita belum menemu halaman akhir. Kuharap menjadi buku bantal, yang panjang halamannya membuat kutu buku semacam kita girang.

Prajurit Rumput, terima kasih telah menjadi bagian dalam hidupku. Telah berusaha sungguh-sungguh menjadi partner segala musim. Seperti ada kata “part” dalam “partner“, teruslah menjadi bagian dari hidupku, menjadi partner hingga tak terbatas usia. Seperti jawaban pertanyaan yang kulontarkan padamu.

“Kamu ingin menua bersama siapa?”

“Kamu.”

IMG_20151211_194920

*** Surat sebelumnya untuk Prajurit Rumput – My Guilty Pleasure

 

Advertisements

14 thoughts on “Kisah Kita Di Negeri Realita

  1. baru baca tulisannya setelah baca komentar teman lainnya..menguip bahasa White Lion “till death do us a part”…
    Salam buat prajurit rumputnya.. Semoga tetap terus berkembang menjadi perwira melati tempat sandaran hati…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s