Perempuan Yang Menyekap “Masa Lalu” Di Matanya

IMG_20160211_161001

Dear Perempuan,

Sudah sembilan tahun kita bersahabat. Kita telah menjadikan satu sama lain kotak pandora. Tempat menyimpan segala kisah. Cerita-cerita dari masa lampau hingga impian masa depan.

Perempuan, di matamu aku selalu melihat masa lalu. Tempat kamu menyekap cinta tanpa masa depan. Cinta diam-diam yang tak kunjung enyah meski diusir berkali-kali. Cinta yang kamu harap sepurba penciptaan semesta.

Perempuan, aku tahu sakitnya saling mencintai tanpa pengakuan. Pada setiap hening malam kamu jahit sudut-sudut bibirmu agar lidah tetap menjaga rahasia, agar nama lelaki itu tak terucap bahkan pada udara yang kamu hirup. Meskipun jari-jari tak kuasa menuliskan namanya dalam diary yang kamu kubur dalam-dalam. Hatimu menjerit sakit, berontak dengan mengatakan bahwa ‘pernah’ ada cinta di antara kalian, bahwa sesungguhnya dia membalas perasaanmu. Bahkan darinyalah segala cinta ini berasal.

Perempuan, di satu waktu aku pernah berucap, bahwa bukan hanya kamu yang merasa tersiksa oleh keadaan, bahwa dia pun merasakan luka yang sama. Hanya saja dia mampu bertahan dalam wajah datar dan dingin laku, semata-mata karena hidup memang tak pernah bisa sekehendaknya. Namun kita tak pernah mengenal kepastian, barangkali saja perih yang dideritanya tak seberapa. Karena kakinya telah sampai pada kepulangan, sementara kamu adalah sepotong pengembaraan. Perempuan, sikap tak acuhnya sebenarnya obat bagimu, karena kalian mungkin memang tak akan pernah bisa bersatu. Justru ucap cintanya adalah racun paling mematikan, yang membombardir benteng-benteng pertahanan yang telah kamu bangun bertahun-tahun. Bukankah itu lebih kejam? Ketika dia membisikan cinta yang membuatmu mati perlahan oleh harapan usang, melambungkan angan yang bahkan hati kecilmu pun tahu tak akan pernah menjadi kenyataan. Ingatkah ketika dia hadir kembali memporak-porandakan hidupmu? Untuk kemudian pergi lagi dan menyisakan punggung yang terus kamu tatap sampai hilang di ujung jalan. Dia tak akan berbalik lagi, Perempuan. Kali ini dia telah menemu batas, jalan buntu bertembok yang tak akan pernah berani dia runtuhkan hanya ‘demi’ untukmu.

Perempuan, ketika rindu itu datang menyusup, bertahanlah pada gigil rasa kehilangan. Rindumu hanya menjadi amunisi kesakitan untuk kalian. Maka berjuanglah untuk menepisnya. Atau tuliskan saja pada bait-bait puisi yang cukup kamu baca sendiri. Biarkan rindu menjadi ambigu. Biarkan rindu lelap dalam kata-kata.

Perempuan, berhentilah menyekap masa lalu di matamu. Biarkan mengalir bersama air mata yang derasnya menguras ingatan tentangnya. Perempuan, aku paham benar, cinta tak bisa dipadamkan, sekalipun dikikis oleh kebencian yang sengaja ditumbuhkan. Seperti kataku, cinta yang tak pernah memiliki adalah keabadian. Namun Perempuan, demi hidup yang tak mau kamu lalui dengan kesia-siaan, berpeganglah pada melupa. Berjalanlah meski kaki penuh luka. Karena pandoramu ini berharap matamu di masa kini dan masa depan akan memerangkap binar bahagia. Bukan semu yang ditawarkan masa lalu.

***untuk Triska Fauziah***

Advertisements

14 thoughts on “Perempuan Yang Menyekap “Masa Lalu” Di Matanya

  1. Menjadi “perempuan” ini memang tak lebih mudah dari kehilangan ayah..
    berkali berupaya keluar dari masa lalu, berkali pula kisah yang sama kembali.
    cinta yang sama bahkan bertambah besar. Meski sakit, meski rubuh seluruh tubuh.
    hai, kotak pandora.. cinta adalah cinta, yang ternyata tak begitu saja menghilang dan berganti benci meski kita begitu ingin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s