Arti Kita – Untuk Evi Sri Rezeki

IMG_20160121_133715

Pi, saat aku menulis surat ini, kamu sedang tidur di pangkuanku. Sesekali aku menatapmu dalam lelap, wajahmu terlihat damai, ekspresi yang jarang kutemukan akhir-akhir ini. Kita dalam mobil yang melaju ke kota lain. Seperti semua perjalanan bersamamu, kali ini pun perjalanan ini terasa menyenangkan. Entah berapa kali kita berkelana bersama, aku berharap, masih ada jutaan jarak yang akan kita tempuh lagi berdua. Aku tahu kaki-kaki kita tak akan lelah berpijak mengelilingi dunia, menaruh jejak kembar di tiap jengkalnya.

Tentang Cinta

Pi, hidup memang luar biasa ya. Tak pernah lelah memberi kita kejutan. Kali ini aku melihat cermin dalam dirimu. Kamu yang mengalami apa yang kualami bertahun lalu. Luka yang bahkan dalam tidur pun terus meneror. Cinta memang tak pernah usai menyeimbangkan diri, datang bersama bahagia dan kepedihan. Kali ini goresannya merenggut damai di rautmu. Tapi percayalah, semesta tak akan membiarkan duniamu diselimuti kabut selamanya. Waktu, kejadian demi kejadian, juga aku akan bahu membahu berusaha menjadi imun dalam tubuhmu. Aku bersyukur telah kembali dari pengembaraan dari negeri hujan sehingga bisa mendampingimu saat ini. Selama kamu tak menyerah, luka itu akan sembuh, tentu dengan tetap meninggalkan koreng agar kamu tak melupa hingga bisa belajar dari sana. Ah, tapi, Pi, hanya di hadapan cinta kita selalu tampak bodoh. Selalu menanggalkan segala atribut kepalsuan hingga yang tersisa adalah kepolosan. Cinta memang profesor, sedang kita penuh keluguan anak SD di hari pertamanya masuk sekolah. Cinta memang pandai menjumpalitkan keadaan. Cinta bisa mendadak membuat kita tampak seperti bipolar. Sedetik lalu kita menampakkan senyum malu-malu, detik berikutnya mata kita telah basah.

Pi, rupanya pencarianmu belum berakhir. Kamu masih mereka-reka, menjadi tulang rusuk siapakah dirimu. Kadang aku heran, masih perlukah kita mencari pemilik rusuk, padahal kita telah menemukan belahan jiwa? Ya, aku dan kamu. Tapi begitulah, pada kenyataannya kita ternyata belum saling mengutuhkan. Ada ruang-ruang yang memang tersedia bagi jiwa-jiwa lain agar hati kita menjadi penuh. Namun yang pasti, dari sekian jiwa itu, padakulah kamu mendapat dasar hakikat hidup.

Pi, kamu wanita yang kuat. Tak kamu biarkan segala duka meruntuhkan mimpimu. Dalam resahmu, aku tak pernah melihatmu setenang itu. Kadang, itu membuatku takut. Karena aku tahu, memendam adalah sakit yang menggilakan. Maka, Pi, jangan memendam. Menangis sajalah, berteriak sajalah, atau apa sajalah daripada berdiam dalam tembok datarmu itu. Meski memang, dunia tak butuh isak tangis, tak butuh teriakan, hanya butuh apa yang ingin dunia dengar dan lihat. Tapi dunia kecil kita tak butuh kepura-puraan, di dunia kita kamu bebas menjadi dirimu. Karena dunia mungil kita selalu dipenuhi cinta yang posesif, keposesifan itulah yang kuharap menerangimu dalam setiap saat dunia terasa begitu kelam. Ingatkah, Pi, saat aku kehilangan kepercayaan diri dalam mencintai. Saat kupikir aku tak ternyata tak pernah benar-benar memiliki cinta? Rupanya aku salah, Pi. Karena aku memang tak pernah kehilangan cinta. Adalah kamu yang menyadarkan itu. Karena itu, Pi, aku pun ingin kamu selalu mengingat dan merasa, di dunia ini selalu ada cinta yang tak akan pernah pudar sedikit pun, cinta yang ada selamanya.

12669677_10153525596032872_3884097361439324348_n

Tentang Mimpi

Pi, ternyata menjadi anak kembar benar-benar membawa banyak berkah ya. Setelah melewati jalan terjal penerimaan bahwa kita selamanya akan dibandingkan dalam segala pencapaian. Rupanya Tuhan begitu baik, sekarang banyak pekerjaan yang memaketkan kita. Seakan Tuhan ingin kita berhenti saling menyimpan iri.

Pi, tentang impian kita. Rasanya kita sudah jauh melangkah, tapi ternyata belum seberapa juga. Banyak hal yang luput kita kerjakan, bahkan tak jarang kegagalan memberikan senyum kemenangannya. Apa-apa yang sudah kita perbuat tak cukup menjadikan mimpi besar kita terwujud: menjadi sepasang kembar yang tercatat sejarah, melewati zamannya. Kita pun mengakui kan, bahwa rasanya belum ada hal besar yang kita buat. Mungkin, untuk menjadi yang tercatat dalam sejarah hanya dibutuhkan ketulusan, bahwa segala perbuatan besar berasal dari kedalaman hati yang akan menggerakan hati-hati yang lain. Pi, tapi aku yakin, semesta telah mencatat kita. Sepasang kembar yang penuh impian, yang di binar matanya memerangkap zaman. Sekarang yang harus kita lakukan hanya terus melangkah di fondasi mimpi yang harus terus kita kokohkan, meningkahi segala gelombang. Karena kisah hidup luar biasa harus selalu melibatkan konflik yang dahsyat. Begitu bukan yang kita pelajari saat menulis? Ah, tapi kita telah bersepakat. Kita hanya butuh hidup yang biasa-biasa saja, biarlah karya kita yang berbicara tentang segala yang luar biasa.

Pi, terima kasih karena bersedia menjadi kembaranku selamanya. Meskipun kamu tak bisa menemaniku menonton drama Korea πŸ˜€ Namun seperti katamu, kita kembaran yang melewati batas bumi dan langit, menjadi sepasang wujud apa pun kita. Aku pun begitu. Meskipun aku tak selalu ada di sampingmu. Aku ingin terus menjadi kembaranmu, di waktu adaku, di waktu tiadaku. Karena waktu dan jarak telah meleleh di hadapan kita.

12651119_10153525596107872_3735649343277293650_n

Pi, mobil kita sudah hampir sampai ke tujuan. Tapi hidup kita masih penuh kabut, menutup banyak pintu-pintu persimpangan, agar hidup tak pernah kehilangan akal membuat kita terkejut. Pi, ayo kita terus bergenggaman tangan menghadapi segala kejutan. Saling menularkan keberanian. Saling berbagi arti. Biarlah kamus kita mencatat arti “kita” sebagai segala kata indah yang pernah tercatat di bumi.

 

***Surat-surat untuk Evi sebelumnya: Serupa Kita, 7 Hari Sebelum, dan Menembus Ruang dan Waktu ***

Advertisements

16 thoughts on “Arti Kita – Untuk Evi Sri Rezeki

  1. Pingback: Surat Cinta Pertama, Buat Siapa? | Taman Bermain Drop Dead Fred

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s