[Cerpen] Pada Oktober

 

IMG_20151103_170805

Pada Oktober

Oleh Eva Sri Rahayu

Delapan tahun yang lalu, aku menerima cintanya di sini. Di bawah pohon mangga yang rindang dan berbuah lebat. Satu-satunya pohon besar di taman kecil ini, mencolok di antara rumput dan bunga-bunga dandelion yang putiknya siap terbang menjelajah. Delapan tahun kemudian, aku menerima cinta yang lain di tempat yang sama.

Pertemuan yang aneh di bulan Oktober, pada tanggal delapan. Sebuah angka yang sakral. Karena Oktober sendiri artinya delapan dalam bahasa Latin. Sakral karena pada tanggal delapan tahun ini, genap delapan tahun aku dan suamiku menjalin kasih. Dan pertemuan dengan pria lain itu terjadi saat aku sedang menunggu suamiku di bawah pohon rindang ini. Kami berjanji untuk bernostalgia masa pacaran, di usia pernikahan kami yang telah menginjak angka tujuh.

Aku berdiri sendirian di bawah pohon, mengenakan baju serba putih kesukaan Alva, suamiku. Tiba-tiba terdengar teriakan dari atas pohon. Spontan aku menengadahkan kepala, membuat mataku bersirobok dengan seorang lelaki muda yang tengah duduk di atas pohon, bersembunyi di tengah kerimbunan daun. Mata lelaki itu basah, seperti sudah menangis. Lelaki itu menepiskan semut merah dari tangannya, dan membuat buku yang dia pegang terjatuh tepat di tanganku. Buku itu terbuka tepat pada sebuah catatan. Tanpa sengaja aku membaca bait-bait puisi yang tertulis di dalamnya.

Pada pundakmu aku menitipkan hati// Hingga usia menjadi abadi// Tapi gurat senyummu membuatku patah hingga bernanah // Karena tubuhmu ternyata tak sanggup memikul jiwaku dalam bias malaikat malam.

Lelaki muda itu lalu turun dengan ringan dari atas pohon, berdiri dengan anggun di depanku. Mata kami kembali bertemu, tapi mata itu sudah tak lagi basah, membuatku berpikir tadi salah melihat. Entah kenapa tatapannya membuat dadaku berdesir, sebuah rasa salah seperti datang dengan kecepatan cahaya.

“Maaf, Kak,” katanya singkat sambil mengulurkan tangan padaku.

Kututup buku di tanganku, lalu dengan sebelah tangan lain, aku menjabat tangannya dengan gugup. “Rhena,” ucapku, yang membuat wajahnya diliputi rasa geli, dan akhirnya tertawa terbahak-bahak sambil memegang kepalanya setelah tangan kami lepas.

“Kak, aku bukan ngajak kenalan loh, maksudku minta buku kok,” ujarnya setelah selesai tertawa, yang tentu saja membuat mukaku langsung merah marun.

Dengan kikuk aku memberikan bukunya. Lelaki muda itu mengambilnya sambil tersenyum penuh arti, melihat wajahku yang merah. Lalu dia mengulurkan tangannya lagi sambil menatapku dengan tajam. Aku hanya diam, bingung.

Melihatku diam saja, diambilnya tanganku sambil berkata, “Andri.”

“Eh, iya,” kataku lagi sambil melepas genggaman tangannya.

“Menunggu siapa, Kak?”

“Euh… suamiku,” ucapku singkat dan penuh keraguan.

Andri lalu menatapku penuh pandangan selidik, dibukanya buku, lalu menggambar dan menuliskan sesuatu di sana. Aku seperti tersihir, diam mematung menonton apa yang dilakukannya. Setelah selesai, diberikannya kertas itu padaku.

“Ini buatmu, Kak, berikan pada suamimu,” tukasnya, lalu pergi meninggalkanku yang takjub menatap isi kertas itu.

Isinya sketsa wajahku yang tampak sedang menunggu kekasih dengan berdebar-debar. Sketsa yang sangat kasar tetapi tetap indah untuk dilihat. Di bawah gambar itu ditulisnya sebuah puisi.

Pada Oktober aku menunggu// Bersama debar jantung yang lebih hebat dari tsunami// Dengan rasa yang lebih merah dari cinta// Dengan rindu yang dititipkan hujan pada jutaan putik dandelion.

Begitulah kami bertemu, dan setelah itu kami bertemu lagi dalam suatu sore yang mendung dan gelap seperti suasana hatiku. Saat itu aku pergi dari rumah karena bertengkar dengan mertua. Masalahnya selalu sama, aku belum juga memberinya cucu.

Aku dan suamiku sudah berusaha, kami mendatangi dokter, alternatif, dan banyak cara lainnya. Tapi aku belum juga mengandung. Alva sendiri tidak mempermasalahkan semua itu, dengan tetap sabar dan penuh sayang dia meneduhkanku saat resah menerpa.

Tapi sore itu aku tidak tahan lagi dengan perkataan menyakitkan dari Ibu. Dengan hati yang dipenuhi badai, aku datang ke taman itu, sesenggukan di bawah pohonnya. Tangisku terhenti ketika aku mendengar bunyi gemerisik dari atas pohon. Otomatis aku yang tengah duduk di atas rumput sambil memegang lutut, melayangkan pandangan ke atas pohon. Dan aku menemukan Andri sedang memalingkan muka karena malu ketahuan sedang memperhatikanku.

“Kamu… lihat?” tanyaku kesal karena merasa privasiku diketahui orang.

“Maaf, Kak, aku gak sengaja. Aku bukan mau mencuri dengar,” jawabnya sambil menatapku penuh simpati.

Melihat sorot matanya yang penuh rasa bersalah, aku luluh. “Dek, turunlah, temani aku,” kataku lemah.

Andri meloncat turun dengan mudah, terlihat bahwa dia sudah sangat terbiasa naik turun dari pohon itu. Dia kemudian mendekati lalu duduk di sampingku. Kami saling terdiam, masing-masing larut dalam pikiran, sambil menikmati pemandangan putik-putik bunga dandelion yang terbang terbawa angin kencang penanda hujan akan segera turun, pergi ke tempat yang entah.

“Kak, kenapa kamu menangis?” tiba-tiba Andri bertanya dengan suara yang membelah desir angin.

Aku menatapnya, tapi dia tidak menatapku. Pandangan Andri terus jatuh ke depan, membuat pertanyaan tadi seakan untuk dirinya sendiri. Hal itu justru membuatku nyaman, merasa ada teman dalam kegelapan. Maka meluncurlah cerita dari bibirku, seperti bercerita pada seorang sahabat yang paling kupercaya. Ketika hari beranjak gelap, dan tangisku telah usai, ceritaku pun selesai.

Andri menatapku lekat-lekat, lalu katanya, “Kak, kalau lain kali kau ingin menangis lagi, kau boleh memilih bersandar di dadaku atau di bahuku.”

Mendengar itu, aku pun tersenyum tulus. Mata kami kembali bersinggungan, dan kehangatannya pun kembali menyusup ke dalam hatiku.

“Terima kasih, tapi aku sudah terbiasa menangis tanpa bersandar.”

Setelah hari itu, kami sering bertemu di taman. Seperti janjian, padahal tidak, karena tidak pernah ada kata terucap untuk kembali bertemu. Setiap kali aku datang ke sana, aku akan menemukannya sedang duduk di atas pohon, sedang membuat sketsa atau puisi. Lama-lama bukan hanya aku yang bercerita, dia pun mulai terbuka. Kepercayaan memang sesuatu yang selalu ajaib, karena ketika kita memberikannya dengan tulus pada seseorang, maka dia akan memberikan hal yang sama besar. Andri bercerita tentang hatinya yang patah, cintanya bertepuk sebelah tangan pada gadis yang telah lama menghuni jiwanya. Tahulah aku, hari itu, hari pertama kami bertemu, dia memang benar-benar menangis.

Sekarang, bagiku dia tempat berbagi segalanya. Kami berbagi suka dan duka, tertawa dan menangis bersama. Terkadang saling ejek, terkadang saling merajuk.

Lama-lama aku seperti ketagihan untuk bertemu dengannya, selalu memikirkannya, dan selalu membayangkan senyumnya. Ada rasa rindu yang menggedor hatiku bila sehari saja kami tidak bertemu. Seperti hari ini, ketika aku dengan susah payah menyempatkan diri datang ke taman untuk bertemu dengannya. Tapi Andri tidak juga datang. Satu jam, dua jam, hingga hari telah gelap, bayangannya tetap tidak muncul. Dengan sedih aku menggurat tanah yang tidak ditumbuhi rumput di dekat pohon, menuliskan pesan untuknya. Singkat saja, hanya “Aku rindu”.

Esoknya, ketika aku kembali ke sana, di tempat yang sama tempat aku menulis pesan itu, sudah tertulis pesan baru. Sepertinya si penulis pesan sangat sadar bahwa tulisanku itu untuknya. “Aku juga rindu. Maaf, kemarin aku tidak bisa datang. Aku sedang UTS. Sekarang pun aku hanya datang untuk memberi pesan padamu.”

Membaca pesan itu, hatiku sakit. Aku sadar betul, hatiku telah dicuri olehnya. Bukan, lebih tepatnya, akulah yang memberikannya. Dan bolehkah aku berharap dia merasakan hal yang sama? Pertanyaan retoris yang begitu jelas jawabannya. Tentu perasaan ini harus segera dibunuh, dihancurkan hingga tidak bersisa. Tapi alih-alih mati, dia malah tumbuh semakin subur. Sambil menangis, aku kembali menggurat pesan untuknya, kali ini lewat bait-bait puisi.

Aku tidak pernah mengundangmu hadir dalam hidupku// Kau datang sendiri membelokan jalanku // Ini bukan sayang, apalagi cinta, ini hanyalah rasa tanpa nama.

Hari selanjutnya, kami tidak juga bertemu, tapi aku menemukan kembali pesan yang digurat di atas tanah. Pesan itu berisi “Aku tahu hatimu, karena aku pun begitu. Aku menulis sebuah puisi untukmu. Bersandar air pada awan// Diceraikan mendung pada waktunya// Gamang hanyalah perantara// Agar hujan tak turun sia-sia.” Membaca itu, air mata haru mengalir. Hatiku dipenuhi sejuta jenis bunga. Aku sedang jatuh cinta, dan dia merasakan hal yang sama.

Selama lebih dari seminggu kami tidak bertemu, hanya terus saja bertukar pesan yang dititipkan pada tanah yang terkadang basah dibasuh hujan bulan Oktober. Keasyikan ini lebih dari bertukar pesan lewat SMS atau lewat teknologi apa pun di dunia. Sayangnya, aku tidak bisa mengabadikannya, karena tulisan pada tanah ini selalu saja terhapus.

Hingga hari kedelapan, ketika aku merasakan kecewa karena tidak menemukan pesan darinya, tiba-tiba saja Andri muncul dengan senyum khasnya. Dari balik pohon yang mulai berbuah itu, dia mendekatiku dengan tatapan penuh kerinduan. Aku terdiam, menahan diri dengan sekuat tenaga agar tidak memeluknya.

“Kamu, mau jadi kekasihku?” tanyanya saat berada tepat di hadapanku.

Mendengar itu aku membelalakan mata, rasanya pendengaranku telah salah. Apa mungkin itu hanya desau angin. Tapi pria di depanku ini nyata, dan dia tengah bertanya padaku. Air mataku meleleh. Andai saja sore itu turun hujan, tentu dia tidak usah melihatnya.

“Bagaimana dengan dia? Apa kamu sudah melupakannya?” tanyaku.

“Entahlah,” jawab Andri sambil membuang muka. Dari kata dan gerak tubuhnya saja aku sudah tahu, dia belum sepenuhnya melupakan gadis impiannya itu. Tapi aku tidak bisa menuntut, karena aku pun terbagi.

“Kamu mau jadi yang kedua? Jadi selingkuhanku? Mau merasa sakitkah?” tanyaku lagi.

Andri diam sejenak, jelas dari ekspresi wajahnya dia terluka, seperti baru menyadari kenyataan pahit bahwa aku tidak sendiri.

“Iya,” jawabnya singkat dengan nada getir.

Lalu sesorean itu kami bercengkrama tanpa bersentuhan, hanya duduk bersebelahan seperti biasa, tapi hati kami telah berpelukan erat. Di antara kehangatan hatiku yang berbunga, sungguh terselip kesunyian yang lebih dari sepi. Kesedihan yang lebih mencekam dari kehilangan. Semua rasa itu muncul karena aku telah menduakan hati.

Sungguh aku ingin mencintai Alva dan Andri dengan sederhana, seperti cinta yang dimiliki manusia biasa. Tapi cintaku ternyata cinta para dewa, seperti cinta Zeus yang selalu terbagi, tak pernah benar-benar tertambat pada Hera. Sungguh selama delapan tahun ini aku selalu percaya bahwa hanya Alva yang selamanya menghuni hatiku.

Lalu saat senja telah habis, kami berpisah sambil kembali bertukar senyum, bertukar tatapan yang mengatakan jauh lebih banyak dari kata.

“Andri, cintaku padamu seperti bunga plastik. Walau palsu, tapi tak pernah mati,” ucapku menirukan sebuah kata mutiara yang sering kudengar.

Andri menatapku nanar, tak berkata apa-apa.

Setelah perpisahan di senja itu, aku seperti menghilang. Aku tidak pernah menemuinya, ataupun sekadar menulis pesan. Bukan aku menghindar, tapi aku memang tidak bisa menemuinya karena sibuk mempersiapkan pernikahan adik iparku. Sungguh sesak dada ini memendam kerinduan, dan sungguh luka rasanya ketika berduaan dengan suamiku. Ada merasa telah menghianati keduanya. Seperti ada tiga orang sekaligus di ranjang ini. Diam-diam aku selalu menangis sebelum tidur. Untung Alva tidak menyadarinya.

Hingga hari kedelapan terakhir pertemuanku dengan Andri, aku bisa kembali bertatap dengannya. Pertemuan penuh dengan perang batin maha hebat bagi kami berdua. Kutemukan sorot yang berbeda dari mata Andri. Campuran dari kesedihan, rasa bersalah, dan kerinduan.

“Aku menunggumu setiap hari, menuliskan pesan setiap hari, tapi pesanku tidak pernah berbalas,” katanya dingin.

“Maaf,” hanya kata itu saja yang bisa kuucapkan.

“Beginilah nasib kekasih gelap. Setelah hari ini akan kubunuh sosok kekasihmu,” ucapnya lagi, meremukan hatiku.

“Kamu menyesal?”

“Aku sudah tidak bisa menahankan rasa bersalah ini. Kamu istri orang,” jawabnya.

Lagi-lagi aku menangis di hadapannya. Ingin sekali aku merengkuhnya. Menangis di dadanya. Tapi tidak bisa, tidak boleh sampai terjadi, karena itu hanya akan menambah sakit bagi kami berdua.

“Aku mencintaimu,” kataku akhirnya.

“Sudahlah, Kak, kita jadikan saja hubungan kita ini sebagai persaudaraan yang indah,” tukasnya yang seperti suara petir membelah langit.

“I-iya…,” ucapku pasrah, karena kata-katanya memang benar, dan karena dia juga telah kembali memanggilku dengan sebutan ‘kakak’.

Kami kembali terdiam, berdiri saling berhadapan, sama-sama menghayati suara angin pancaroba. Sampai senja kembali hadir di tengah kami.

“Aku pulang,Kak.” Akhirnya Andri memecah kesunyian kami.

Aku mengangguk, lalu ketika dia berjalan melewatiku, persis ketika kami bersisian, aku memegang tangannya yang kokoh. Dia membalas genggamanku. Tangan kami bertautan, tapi kami tidak saling menatap. Kemudian aku sadar ini akan membuat semua lebih sulit. Kulepaskan genggamannya, untuk sepersekian detik dia tidak melepaskan tanganku, lalu akhirnya dilepaskannya juga. Setelah itu Andri melesat seperti angin, pergi meninggalkanku sendiri.

Sebelum meninggalkan tempat kenangan bagi kedua kekasihku, aku sempat menuliskan sebuah puisi di tanah yang lembap.

Andai saja hari itu kita tak bertemu// Aku tentu tak tahu aromamu// Untung saja, hanya sekejap kau pegang tanganku// Setelah itu, kita jadi ambigu.

***

Akhir Oktober, aku kembali ke sana, bersama Alva. Dengan gayanya yang lucu, dia memanjat pohon mangga itu, melemparkan dengan tepat ke tanganku buah mangga mentah yang kuminta.

“Itu untuk permintaan bayi kita,” katanya penuh kebahagiaan.

Aku membalas senyumnya dengan tulus. Kami lalu duduk di bawah kerindangan pohon, sambil mengobrolkan bagaimana rupa anak yang sedang kukandung ini. Lalu tatapanku tanpa sengaja menangkap bayangan Andri dengan seorang wanita muda. Hanya sekejap saja. Mungkin aku salah lihat, mungkin hanya karena aku masih menumpuk rindu untuknya. Tapi, bila memang itu benar-benar dia, semoga saja dia bahagia bersama gadis penghuni rusuknya itu.

Kepada Oktober, aku menitip cinta lain, menitip doa untuk seorang kekasih dalam setiap hela napasnya.

*2011

*Cerpen ini pernah diterbitkan indie dalam kumpulan cerpen “When … I Miss You”

 

 

Advertisements

12 thoughts on “[Cerpen] Pada Oktober

  1. Cerita sedih tentang cinta tak berujung, hehe…Ada merasa telah menghianati keduanya. (maksudnya: Aku instead of Ada?)
    meremukan hatiku.atau meremukkan hatiku.

    Bunda suka alur cerita yang indah bisa meresap ikut merasakan gedebur indahnya cinta. Mau donk kumpulan cerpennya, maksudnya mau order.

  2. Wowww keren cerpennya kak 🙂 jadi terbawa suasana huhuhu..
    Aku seperti merasakan apa yang terjadi. Menahan rasa cinta, dilingkupi rasa bersalah, merona aroma cintaaa, wahhh kerennnn..

  3. Whuaaaa, baru baca cerpennya Eva yang rasanya kaya gini. Manis, Manis Pahit dan Manis.

    Aku suka alur ceritanya, ada sejumput penasaran, suka karakternya yang tidak terlalu menggebu tapi juga ngga pasif, DIksinya enak, bahasa keseharian yang tidak mendayu-dayu drama puitis. Hi hi hi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s