Steak Maranggi Festival: Seistimewa Purwakarta

Pembukaan Steak Maranggi Fest di Purwakarta

Pembukaan Steak Maranggi Fest di Kabupaten Purwakarta

Setelah sekian lama tidak menginjakan kaki ke Kabupaten Purwakarta, hari itu saya berkesempatan lagi datang ke sana. Yang tersisa dalam ingatan masa kecil saya tentang Kabupaten Purwakarta hanyalah kota yang panas. Maka saya dibuat terkejut ketika melihat keasrian dan kebersihan Purwakarta masa kini. Dalam hati, saya mengamini slogan “Purwakarta Istimewa” karena pada kenyataannya memang seperti itu. Saya pun jadi bersemangat untuk menghadiri “Steak Maranggi Festival” yang menjadi tujuan kedatangan saya ke sana. Rasanya tak sabar menunggu malam menjelang.

 

Salah satu taman di Kabupaten Purwakarta, tampak asri dan bersih.

Salah satu taman di Kabupaten Purwakarta, tampak asri dan bersih.

Tanggal 5 Desember lalu, saya sampai ke Purwakarta bersama para blogger dari Bandung, Jakarta dan sekitarnya pada siang hari. Kami berkesempatan makan siang dan berbincang-bincang bersama Bupati Purwakarta, Pak Dedi Mulyadi. Dari obrolan santai berisi itu kami jadi banyak mengetahui program unggulan Kabupaten Purwakarta. Salah satu yang membuat saya terkesan adalah program ternaknya. Pak Dedi memiliki misi supaya profesi peternak tidak kalah pamor dengan profesi lainnya. Beliau merangkul anak-anak muda Purwakarta untuk belajar beternak. Selain mereka jadi produktif, juga bisa memiliki penghasilan sendiri. Menurut Pak Dedi, ke depannya di setiap peternakan akan disediakan wifi agar anak-anak muda itu dapat memanfaatkannya untuk belajar sekaligus memasarkan hasil ternak. Luar biasanya lagi, pemasok daging untuk gelaran “Steak Maranggi Festival” ini adalah hasil ternak mereka. Memang masih dibantu dari peternakan lain.

 

Acara makan siang dan bincang santai dengan Bupati Purwakarta Pak Dedi Mulyadi

Acara makan siang dan bincang santai dengan Bupati Purwakarta Pak Dedi Mulyadi

 

Lalu kenapa sih “Steak Maranggi Festival” bukan satenya yang sudah terkenal itu? Menurut Pak Dedi, harus ada terobosan produk baru. Maka terciptalah steak dengan memakai bumbu khas maranggi yang kuat rempah-rempahnya. Diharapkan ke depannya steak maranggi ini akan menjadi ikon kuliner Purwakarta, karena itu festivalnya dirancang untuk digelar setiap tahun.

 

Sesi tanya jawab dengan Pak Dedi Mulyadi

Sesi tanya jawab dengan Pak Dedi Mulyadi

 

purwakarta4

Foto bareng blogger dan Pak Dedi Mulyadi di pendopo

Museum Diorama Bale Panyawangan

Setelah sesi foto-foto, kami diajak berkunjung ke Museum Diorama Bale Panyawangan. Museum ini menggunakan sistem digital dan memiliki beberapa wahana menarik yang bisa membuat pengunjung betah, seperti foto box, gowes sepeda keliling Purwakarta di mana kita bisa melihat pemandangan Purwakarta lewat layar besar, dan bioskop mini. Serunya, di bioskop mini ini, pengunjung ditantang untuk belajar goyang sate maranggi loh. Para blogger langsung gerr-gerran sambil asyik menari. Pokoknya museum ini atraktif banget.

 

Lobi Museum Diorama Bale Panyawangan Purwakarta

Lobi Museum Diorama Bale Panyawangan Purwakarta

 

Gowes keliling Purwakarta, salah satu wahana di Museum Diorama Bale Panyawangan Purwakarta.

Gowes keliling Purwakarta, salah satu wahana di Museum Diorama Bale Panyawangan Purwakarta.

Steak Maranggi Festival

Malam pun menyapa. Kami beranjak menuju tempat Steak Maranggi Festival yang merupakan agenda utama. Setibanya di jalan KK. Singawinata, penonton sudah berjubel, antusias menyambut hajatan ini meskipun hujan turun rintik-rintik. Kami disambut oleh jajaran MOKA yang ayu. Acara dibuka dengan tarian tradisional dimana para penari menggunakan hihid–kipas untuk mengipasi nasi atau arang buat membakar daging–sebagai propertinya. Memang, festival ini terasa nuansa tradisionalnya, mulai dari tarian, musik, dekorasi, sampai busananya.

 

Jajaran MOKA penyambut pengunjung Steak Maranggi Festival 2015

Jajaran MOKA penyambut pengunjung Steak Maranggi Festival 2015

Selepas tarian, sesi berikutnya adalah berdoa bersama untuk kelancaran acara, barulah Pak Kusnadi dari Disbudpar Postel memberikan sepatah dua patah kata sebagai sambutan. Yang membuat terharu adalah saat Bu Ratna Mustika–ibu bupati–tampil dengan interaktif pada pengunjung. Beliau menolak untuk dipayungi agar sama-sama menikmati gerimis bersama warganya. Acara pun resmi dibuka setelah pengguntingan pita. Steak Maranggi Festival ini diikuti oleh 75 SMP-SMA sederajat. Hasil kreasi mereka dilombakan dengan tim juri yang terdiri dari Bu Ratna Mustika–sebagai perwakilan daerah, Chef Aiko, dan Bu Odilian Winneke dari detikFood.

 

Para penari menyerahkan gunting untuk sesi pengguntingan pita.

Para penari menyerahkan gunting untuk sesi pengguntingan pita.

Saya kemudian menjajal satu persatu stan berisinya steak-steak cantik yang baunya memanggil-manggil untuk dicicipi. Namun, steak baru bisa dimakan pengunjung setelah melalui proses penjurian. Sambil menunggu, saya berkunjung ke belakang stan untuk melihat proses pembuatan steak, melihat siswa-siswi muda itu terampil mengolah daging.

 

Ibu Odilia dan Bu Ratna sedang menilai steak buatan peserta.

Ibu Odilian dan Bu Ratna sedang menilai steak buatan peserta.

Saat Chef Aiko mulai menilai, pengunjung beramai-ramai mendekatinya untuk dapat mengabadikan momen itu dari dekat. Beruntungnya saya bisa memvideokannya πŸ˜„ Sembari mengikuti tour para juri ini, saya mengamati wajah-wajah tegang sekaligus excited para peserta.

 

Chef Aiko sedang mencicipi steak salah satu peserta

Chef Aiko sedang mencicipi steak salah satu peserta

Setelah itu, saya pun langsung menyerbu steak, menikmati sepotong demi sepotong dari stan yang berbeda. Steak maranggi memiliki rasa yang sangat khas, ternyata bumbu sate maranggi cocok dibuat menjadi steak. Dagingnya harum rempah dan rasanya lezat. Salah satu steak yang memanjakan lidah saya adalah steak buatan siswa-siswi SMPN 1 Purwakarta. Hampir saja saya tergoda menghabiskannya πŸ˜„ Ternyata mereka memenangkan juara Harapan I dalam lomba ini. Ternyata meskipun mencicipi sedikit-sedikit, perut saya kenyang juga dan meninggalkan perasaan bahagia. Makanan yang dibuat dengan hati memang selalu menciptakan perasaan menyenangkan untuk pemakannya.

 

Saya nyicip-nyicip steak yummy

Saya nyicip-nyicip steak yummy

 

Penampakan steak maranggi salah satu peserta.

Penampakan steak maranggi salah satu peserta.

 

Para koki-koki muda potensial dari Purwakarta

Para koki-koki muda potensial dari Purwakarta

 

Malam makin larut, datang juga saat pengumuman. Sebelum nama-nama pemenang disebutkan, Chef Aiko memberikan pelajaran singkat untuk para koki muda potensial asal Purwakarta itu. Keriaan para pemenang bukan kegembiraan semata, tetapi menjadi penyulut semangat dan energi untuk terus berkreasi. Dan sementara para pemenang bersukacita, kami juga menutup kunjungan dengan bahagia, sambil menyimpan harapan, tahun depan bisa datang lagi ke Steak Maranggi Festival yang seistimewa Purwakarta ini.

 

Doakan kami bisa main lagi ke Purwakarta ya.

Doakan kami bisa main lagi ke Purwakarta ya.

Advertisements

15 thoughts on “Steak Maranggi Festival: Seistimewa Purwakarta

  1. Saya kok lebih tertarik sama museum Diorama Bale nya. Gak begitu suka makan steak soalnya hehe :D. Tapi kalo gratis ikutan incip-incip juga boleh la. πŸ˜€
    Makasih udah share πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s