Bidadari Berdarah Bajingan

IMG_67030012051917

 

Dear para bidadariku Ellis Qyt, Desita Pong, dan Ana Sang Wagima.

 

Ana sang, kamu sekarang pasti sedang sibuk persiapan pementasan. Kali ini di Bali, ya? Aku yakin kamu pasti tampil bersinar di panggung.

 

Qyt sang, pasti sedang mengajar di kelas. Salam untuk murid-murid bulemu, ya 😀 Kapan-kapan aku kepengin lihat sendiri menerangkan bahasa ibu kita pada mereka.

 

Despong, selamat ya buat kehamilan keduanya. Kamu bakalan jadi ibu yang makin mengagumkan buat Yuichi dan adiknya. Jaga kesehatan, oke.

 

Semalam aku melihat-lihat foto-foto pentas kita. Aku jadi sangat merindukan kalian. Rindu sepanggung bersama kalian. Kangen mempersiapkan gelaran pentas bersama kalian. Juga agak-agak kangen berseni peran XD

 

Kita memang dipertemukan oleh teater. Ikatan yang diskenario Tuhan, pasti bukan kebetulan. Aneh memang, kalian semua kan memang satu universitas, tapi aku kan beda sendiri. Secara ajaib aku yang padahal udah telat banget daftar ke UKM teater–nekat ya karena waktu itu pendaftarannya aja udah ditutup, untung msih diterima—ikut pelatihannya dari tengah-tengah, sehingga bisa ketemu kalian. Tapi gara-gara kalian—nyari kambing hitam—aku akhirnya pindah universitas juga XD

 

Waktu itu tahun 2004, ketika memasuki lingkungan kalian, aku takut-takut dan bingung harus bagaimana mulai bergaul. Orang pertama yang menerimaku dengan sangat bersahabat adalah Despong. Despong, Qyt, dan Ana sering banget bareng-bareng. Diam-diam aku ingin menjadi sahabat kalian. Karena itu aku suka menempeli Despong. Heuheu….

 

Terus terang aku kagum pada Despong dan Ana Sang yang selalu terlihat membius tiap kali membacakan puisi atau disuruh performance spontan alias jeprut. Sementara aku sangat lemah dalam hal yang menuntut spontanitas. Aku juga kagum pada Qyt yang selalu cerdas membuat pantun dalam sekejap. Qyt juga punya passion yang sama denganku: menulis. Hal itu membuat aku jadi makin minder bisa diterima jadi sahabat kalian. Aku kan pendiam, enggak bisa baca puisi, bikin pantun, apalagi performance.

 

Suatu hari kita ramai-ramai menginap di kosan Despong. Sebenarnya waktu itu aku ragu ikutan, tapi setelah kupikir lagi, bagaimana bisa dekat dengan kalian kalau pada momen seperti itu aku tidak ada. Maka kupaksakan saja dengan menebalkan muka. Ternyata prediksiku tidak salah, berkat malam panjang berisi obrolan-obrolan dari hal penting sampai gosip, akhirnya sedikit demi sedikit aku bisa dekat dengan kalian. Akupun jadi sering menginap di kosan Despong. Kejadian lucu yang paling kuingat adalah persoalan tidur. Pagi-pagi Despong dan Qyt bangun untuk kuliah, aku yang sudah niat membolos cuman melihat kalian berangkat. Dan ketika kalian pulang, aku masih nyenyak tidur. Masih terbayang ekspresi Despong waktu itu yang membangunkanku dengan terheran-heran, katamu, “Epoooy, ya ampun, masih tidur.” XD

 

Saking dekatnya kita diberi nama geng oleh Babeh: Bidadari Berdarah Bajingan. Heuheu nama yang aneh sih. Lalu kita meraba-raba maknanya. Bajingan di sini memang bermakna ganda sih. Sisi baiknya, menandakan kalau kita wanita kuat. Kalau istilah di teater kita Betina tangguh. Sebagai bidadari berdarah bajingan kita tidak gentar menghadapi panas hujan dingin cuaca, maju terus untuk latihan. Pagi, siang, malam, sampai kurang tidur. Kita tidak bermasalah tidur di mana saja, bahkan cukup beralasakan koran. Untuk urusan keproduksian, kita juga sungguh-sungguh mencari uang untuk pementasan. Mulai dari secara elegan dengan proposal sampai turun ke jalan untuk mengamen. Kalau sisi buruknya kita dinilai hmmm… pintar menggunakan pesona mungkin ya *mencari padanan kata yang sehalus mungkin, wkwkwk* Heuheu wajarlah ya… namanya juga anak muda *plaak*

 

Banyak kejadian kita alami, mulai dari mempersiapkan resital, sampai mengikuti perlombaan teater di beberapa kota. Kita juga pernah menyukai pria yang sama *eh*  Banyak pengalaman, ilmu, dan kenangan kita kumpulkan. Terutama keseruan petualangan pentas dari satu kota ke kota lain. Kita sering saling menguatkan dan menghibur di kala susah. Sedih karena masalah impian, cinta, maupun urusan dompet. Kita juga seringkali bertengkar dan berdrama ria. Misalnya saat aku marah pada Despong dan Qyt yang tidak aktif di kepengurusan, Despong yang marah padaku karena tidak berterus terang soal perasaan pada seseorang, Ana yang membuat komunitasnya sendiri, dan banyak-banyak lagi. Tak jarang dibutuhkan waktu yang lama untuk kita berbaikan. Seringnya karena kita sama-sama malu memulai.

 

Waktu berlalu, kita pun berpisah jalan. Impian kita tidak lagi bersinggungan.

 

Ana sang yang teguh di teaternya.

 

Qyt yang memilih mewujudkan mimpi di jalur pendidikan.

 

Dan Despong dengan impian cintanya.

 

Bukan hanya oleh impian, kita juga dipisahkan oleh daerah geografis. Pernah satu kali Ana sang di Jerman, Qyt di Australia, Despong di Jepang, dan aku satu-satunya yang tetap tinggal di Indonesia. Heuheu padahal saat kita satu kota saja menentukan waktu pertemuan sudah hampir sesulit mencari kue dalam tumpukan tepung XD

 

Label sahabat bukan berarti mewajibkan kita untuk selalu ada di samping satu sama lain. Seringkali kita malah tak bisa hadir di hari-hari penting. Saat Ana sang pentas misalnya, atau pernikahanku, juga di hari-hari bersejarah Qyt dan Despong. Namun tidak lantas membuat hati kita menjarak. Kita telah paham dan khatam pada persahabatan ini. Bahwa masing-masing dari kita memiliki keterbatasan ruang dan waktu hingga kita tidak bisa selalu ada menemani raga. Tetapi hati kita tetaplah satu. Akan ada saatnya kita memberi waktu untuk menuangkan kisah-kisah sendiri, memberi ruang untuk yang lain mengetahui dan berempati. Ada waktunya kita melakukan obrolan panjang tentang impian, cinta, luka, sampai urusan rumah tangga.

 

Aku bersyukur memiliki sahabat seperti kalian. Tempat dimana aku begitu polos tanpa ada kepura-puraan. Kalian pun bersikap yang sama hingga persahabatan kita bukan platonis. Kita sudah hafal luar dalam sifat karakter masing-masing, hingga menerima kekurangan dan kelebihan sudah seperti pasangan makan dan minum. Namun bukan berarti kita tidak saling mengingatkan ketika berada di jalur yang salah. Meski akhirnya keputusan diserahkan pada masing-masing dan kita menghormati hal itu sepenuh hati. Kita adalah bejana pandora, tempat segalanya bisa ditemukan. Bahagia, iri, harapan, cinta, pelajaran. Kita adalah partner in crime. Kita adalah partner berbuat kebajikan. Sahabat berdiskusi hingga bersama kalian aku banyak mendapat pencerahan. Dan bersama kalian aku ingin terus bertumbuh dan tua.

 

11 tahun lalu, 11 tahun kini, dan 11 tahun ke depan. Selamanya aku ingin menjadi sahabat kalian.

 

Di jalanan yang makin lengang, kita masih bergenggaman tangan.

Meski dalam pertemuan singkat direntang waktu yang yang terlampau panjang.

Lalu kita kembali saling berbagi cerita yang telah usang karena tergilas jarak.

Membincangkan rahasia-rahasia.

Namun semoga tak lekang pada hati yang ingin mengekalkan: yang tertusuk padamu, berdarah padaku.

 

Ket: “Yang tertusuk padamu, berdarah padaku” adalah penggalan puisi “Satu” karya Sutarji C.B

 

IMG_67189647517220

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Bidadari Berdarah Bajingan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s