Petualangan Manusia 110 Cm Di Negeri Hujan

 

10365931_10152378219477872_4293297404189795970_n

 

 

Cinta Mama, Rasi Kautsar.

Tujuh bulan lalu kita menginjakkan kaki di negeri hujan. Mama sempat khawatir kamu tidak betah di sini. Rupanya jiwa petualanganmu cukup tinggi, kamu malah senang menghadapi semua perubahan. Tempat tinggal baru, lingkungan baru, dan sekolah.

Di hari pertama sekolahmu, dengan gagah berani kamu bilang, “Rasi enggak usah ditungguin, ya, Ma. Kan Rasi udah besar.” Nak, kamu menepati kata-katamu. Mama dan Papa hanya mengantarmu sampai gerbang. Kamu pulang sambil tidak hentinya berceloteh betapa menyenangkannya bersekolah, belajar, dan punya teman. Nak, iya, ini pertama kalinya kamu punya teman tetap. Biasanya kamu hanya berkawan dengan sepupu-sepupu dan sesekali main dengan anak tetangga rumah kembar. Selebihnya temanmu hanya Mama.

Di negeri hujan, kamu belajar bertetangga. Mengenal tenggang rasa dan terluka ketika merasa diabaikan teman. Pada awalnya kamu kaget ketika diolok-olok, kamu terdiam, dan datang padaku sambil menahan tangis. Maafkan mamamu yang bingung menghadapi masalah ini. Kita orang baru di sini, Nak. Tindak-tanduk kita sedang dinilai. Mama takut ketika membelamu, kamu malah dikucilkan. Maka Mama hanya bisa menasehatimu agar tegar dan tidak takut menghadapi teman yang berlaku begitu. Mamamu juga sama, sedang beradaptasi, butuh waktu lama bagi Mama setiap masuk ke lingkungan baru. Mama lebih suka melihat dulu, baru menentukan sikap seperti apa. Mama hanya punya teman-teman maya dalam kotak persegi. Pada akhirnya kamu menarik diri, memilih kembali berkawan Mama, buku-buku bacaan, film, game, dan boneka-boneka di rumah sambil sesekali mengintip dari balik jendela. Melihatmu begitu mengingatkan Mama pada masa kecil, dulu Mama juga selalu di rumah. Bedanya, Mama punya Mama Pi, tapi kamu sendirian. Namun kamu punya ketegaran yang besar, kekeras kepalaanmu seringkali melegakan Mama. Keras kepala mempertahankan harga diri.

Nak, di negeri hujan pula kamu pertama kali mengenal perlombaan. Ingat lomba mewarnai tahun lalu? Jangan pernah merasa buruk karena kalah, Nak. Ada yang jauh lebih berharga dari kemenangan. Pengalaman.

Mama ingat saat kamu pertama kali mendapat piala karena bisa menjawab pertanyaan. Kamu begitu bangga sampai berhari-hari pialanya kamu peluk dalam tidur. Lantas kamu berceloteh bahwa suatu saat akan menderetkan piala sampai memenuhi seisi rumah. Mama senang kamu punya semangat itu. Namun, Nak, kebanggan tidak terletak pada piala, tapi pada setiap peluh usahamu itu. Selalulah bersikap sportif. Kemenangan yang lahir dari kecurangan hanya akan menyiksa hatimu. Mama yakin kamu akan paham hal itu.

 

Anak kucing Mama, Rasi Kautsar.

Di sini, kita hanya memiliki satu sama lain. Rasi-Mama-dan Papa. Kita berusaha agar bisa diandalkan. Saat Mama sakit, Rasi kecil dan Papalah yang menjaga Mama. Merawat Mama. Rasi tidak mengeluh karena tidak Mama temani main. Rasi malah menghibur Mama, menyanyikan lagu-lagu, menjadi suster dan dokter untuk Mama.

 

Casi….

Rasanya waktu seperti mobil yang tengah balapan di sirkuit, berjalan begitu cepat. Sekarang usiamu lima tahun setengah, tinggimu sudah mencapai 110 senti. Kamu sudah mulai bisa membaca dan menulis huruf alfabet dan hijaiyah. Favoritmu adalah menuliskan namamu sendiri: Rasi. Katamu suatu hari akan membuatkan Mama cerita-cerita karangan sendiri. Sekarangpun kadang kamu membawa buku dan mengarangkan isinya untuk Mama. Nak, rupanya kelak kamu yang akan mengekalkan Mama dalam kata-kata, seperti kini aku memakai namamu untuk tokoh-tokoh fiksiku.

Kadang, kamu ingin bermain dan membeli sesuatu. Kalau Mama belum bisa memenuhi kamu akan merengek-rengek, tapi ketika Mama memberi pengertian kamu bisa menerima. Bahwa kadang untuk mendapat barang yang kamu inginkan kamu harus menabung dulu. Seringkali, permintaanmu sederhana saja, berjalan kaki sampai ke depan jalan besar lalu membeli camilan satu-dua saja. Mama senang kamu tidak serakah, tidak gelap mata melihat jajanan. Untuk yang satu ini Mama kalah telak, Nak ^_^ Justru tiap kali kita belanja, Mama yang ribut ingin ini itu.

 

Kunil Mama…

Kalau kamu berpikir Mama banyak mengajarimu, seperti menulis dan membaca, kamu jauuuh lebih banyak mengajari Mama. Kamulah gurunya, Nak. Kamu mengajarkan untuk ikhlas menerima keadaan apapun. Seperti yang Mama tulis di surat-surat sebelumnya, kamu mengajarkan cinta yang tulus. Kamu menerima Mama yang terlampau banyak kekurangan ini menjadi ibu yang kamu sayangi. Ke manapun Mama pergi, ke sanalah kamu ingin menuju.

Nak, tahukah kamu bahwa setiap hari Mama selalu cemas. Takut kalau-kalau kamu tidak bahagia hari itu. Namun tawamu yang lucu dan menggemaskan menjadi jawaban, seolah menyuruh Mama agar tidak terus diliputi kegelisahan. Karena itu darimu, Nak, Mama paham arti bahagia. Suara nyanyianmu yang tak henti terdengar di telinga dalam keadaan apapun menyentuh nurani Mama, bahwa setiap saat kita bisa memilih bahagia.

Mama juga paling senang saat kamu menghabiskan masakan Mama—yang seadanya dan menunya itu-itu saja—lalu berkata, “Masakan Mama super-super enak…!”

Nak, di negeri hujan yang sering diguyur titik-titik air, Mama merasa dihujani kasih sayangmu. Kamulah yang melindungi Mama dari gersang. Terima kasih, atas doa di sepanjang nadimu untukku.

 

Rasi Kautsar….

Mama akhiri surat ini ketika melihatmu membuka mata. Kamu anak pintar, tiap hari bangun sendiri tanpa Mama bangunkan. Diam-diam sedari tadi Mama menulis sambil mencuri pandang menatap wajahmu dalam damai tidur. Sesekali kamu tersenyum dan tergelak terbawa mimpi indah yang entah berisi apa. Saat tidurpun kamu cantik, Nak.

Pagi ini seperti Rabu biasanya, kamu bersemangat berangkat sekolah, tidak sabar ingin segera mulai pelajaran olah raga. Kita berjalan kaki sambil bercerita tentang apa saja. Tentang Sofie yang baik, Arkin dan Nanda yang jahil tapi menyenangkan, tentang pengalaman ulang tahun pertamamu, sampai permainan di sekolah yang seru-seru. Kamu juga sering mendominasi obrolan dengan pertanyaan “Itu apa, Ma?” dan “Kenapa, Ma?” sampai Mama kehabisan kata menjawabnya. Tangan mungilmu menggenggam tangan Mama erat. Jangan pernah lepaskan, Nak. Kamu detak jantung Mama.

Sepulang sekolah nanti, kita makan bersama, lalu kita masing-masing membuat scrapbook yang lucu. Sorenya ketika langit cerah, mari menjelajah taman, mengganggu burung-burung, mengumpulkan ranting-ranting, bermain kapal-kapalan, dan menyoraki Papa yang jatuh saat bermain skateboard.

Ayo, Nak, kita lanjutkan petualangan di negeri hujan. Kita kumpulkan kenangan sebanyak anak rambutmu.

 

IMG_20150216_061005

Advertisements

7 thoughts on “Petualangan Manusia 110 Cm Di Negeri Hujan

  1. Pingback: Super Cat – Untuk Rasi Kautsar | Taman Bermain Drop Dead Fred

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s