Idola Masa Kecilku

1907981_10152110128724613_711346787_n

 

Idola Masa Kecilku

: Yunis Kartika

 

Sista sayang,

Kukirimkan surat ini karena merindumu. Ingin rasanya bertukar cerita bersama secangkir kopi di dapur rumahmu sambil sesekali mengawasi kedua anak kita yang khusyuk bermain game. Sis, melihat mereka seperti melihat masa kanak-kanak kita. Aku pernah berada di posisi Rasi yang mengagumi Kakak Athaya. Akupun mengagumimu. Sis, kamu idola masa kecilku.

 

Aku masih ingat waktu kecil, apa-apa yang kamu suka akan otomatis kusukai juga. Kamu yang bandel dengan jiwa petualangan yang melimpah ruah tak bisa dibendung aturan tapi tetap berprestasi di sana-sini. Ketika kamu menjadi anggota Pramuka yang seringkali menceritakan pengalaman kemping-kemping seru, akupun ingin mengalaminya. Ketika kamu beberapa kali membawa pulang piala lomba karate, akupun ingin sejago dirimu. Saat kamu mencintai dunia teater, aku juga ingin berada di panggung. Lalu saat kamu memacu adrenalin dengan naik gunung, aku memastikan diri suatu hari harus menatap ke bawah dari puncak gunung. Begitulah kamu menginspirasi langkah-langkahku. Meski ternyata aku tidak bisa mengikuti semua jejakmu. Naik gunung? Hmmm, boro-boro, aku hanya punya pengalaman kemping ke gunung sekali waktu SMP. Jago karate? Hadeuuh, setahun tetap saja sabukku putih. Pramuka? Yah, hanya bertahan enam bulan saja sudah bagus. Teater? Kalau yang ini kupastikan dulu aktingku melebihimu. *maafkan adikmu ingin agak narsis karena dari beberapa aspek kalah melulu ๐Ÿ˜„

 

Dari sekian banyak, hanya dunia tulis yang kupilih tanpa campur tangan pesonamu. Tapi begitulah langkah kita ternyata memang sering sejalan. Saat besar, banyak proyek kita garap bersama, dari teater sampai buku bareng.

 

Sista sayang, kita pada akhirnya memang sering bersebrangan, kadang salah paham. Entah berapa puluh kali kita bertengkar sampai menangis sesenggukan. Saling menyakiti. Perlahan kamu tidak lagi menjadi role modelku lagi. Namun tiap kali kita mendapat akhir yang melegakan hati, kita selalu berbaikan dan menutup luka-luka. Begitulah proses kita untuk saling memahami.

 

Sista sayang, di atas segala yang menyedihkan, kamu sering ada untukku. Membantuku berdiri dan memelukku saat kukira dunia telah runtuh. Dua tahun lalu, kamulah yang berada di garda paling depan memahami keadaanku. Terima kasih Sista sayang. Aku tidak tahu apakah aku sudah cukup mati-matian memahamimu, hanya kamulah yang bisa menjawabnya.

 

Sista sayang, bertahun-tahun ini, banyak lagi yang terjadi padamu. Tanpa kamu sadari, kamu telah berkali-kali bertransformasi. Kini setiap menatapmu aku seperti melihat pohon yang teduh, membuatku betah lama-lama bernaung di bawahnya. Kamu makin dewasa. Kamu banyak berubah, Sis, hadiah dari perjalanan panjang terjal menyakitkan sekaligus menggairahkan. Aku cukup lega melihatnya.

 

Sista sayang, aku tahu kamu wanita pejuang yang dikuatkan oleh cinta. Kamu tidak akan lagi kalah oleh hujan bebatuan cobaan. Aku melihatmu kembali merasakan gairah hidup, tapi dibalut rasa syukur yang haru. Terus istiqomah di mimpi yang tengah kamu jalani sekarang ya, Sis. Jangan terus menoleh kanan-kiri.

 

Sista sayang, surat ini aku akhiri dengan memberitahumu satu rahasia. Dari melihat matamu aku yakin, suatu hari kamu pasti menjadi idolaku lagi.

 

Advertisements

2 thoughts on “Idola Masa Kecilku

  1. Pingback: Usah Menanti Suatu Hari | Taman Bermain Drop Dead Fred

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s