Jangan Jadi Fiksi

CIMG2047

My Dear Mercy Sitanggang,

Baru saja aku menuntaskan novelmu “Laura (Sendiri)”. Kisah tentang Laura yang gelap dan kelam, membuatku beberapa kali ikut menangis bersama tokoh rekaanmu itu. Namun, bukan itu yang membuatku dini hari ini belum terlelap. Ada gundah yang menggelitik, mengusir kantuk, dan memaksa agar tetap terjaga. Itu karena aku mengingatmu.

 

Kita sama-sama tahu, saat menulis, kita seringkali menciptakan tokoh fiksi dengan karakter alter ego kita sendiri. Belum lagi memasukan hati dan pikiran kita pada mereka. Rasa kita sebagai pencipta, kita transferkan pada tokoh buatan kita. Dan itu membuatku merasa takut sepanjang membaca Laura. Tokoh fiksimu … begitu … kesepian.

 

Kamu tahu, Dear, saat aku menangis, bukan sepenuhnya karena aku berempati pada Laura, tetapi karena aku takut, kesepian Laura adalah kesepianmu. Sepi yang ingar, tentu saja. Karena Laura tidak pernah benar-benar sendirian. Begitupun denganmu. Ada sahabat dan keluarga di sekelilingmu. Namun kita tahu, kamu selalu menyetok topeng-topeng yang kamu simpan di brangkas hatimu untuk berjaga-jaga agar kapanpun saat kamu butuhkan, topeng itu siap kamu gunakan dan tukar dengan yang mana saja. Topeng-topeng itu kamu pakai untuk menutupi perasaanmu yang sesungguhnya. Menampakkan tawa dan wajah yang terlampau ceria. Dear, tanpa topeng pun kamu wanita yang kuat, tabah, dan pejuang tangguh. Sungguh! Dear, maafkan kalau topeng-topengmu membuatku takut. Karena aku takut kamu memakai topeng saat bersamaku.

 

Ingat perjumpaan kita Desember lalu? Pernah di satu ketika itu aku memergokimu tanpa topeng, hanya sedetik, karena detik berikutnya kamu telah memasangnya lagi. Wajah itu, ekspresimu itu menyentuh relung hatiku. Sayangnya kamu terlalu cepat menyembunyikannya. Setelah itu aku menyimpan tanya, “Perlukah topeng saat bersamaku?”

 

Sayangku, sepanjang pertemuan itu aku merasa sedih. Tidakkah kamu akui kalau kita terasa berjarak? Senyum, tawa, dan obrolan menguar hambar di udara. Roh kita tidak terikat seperti dulu. Pelukan kita tidak lagi hangat dan likat. Apa yang terjadi padamu? Padaku? Pada kita? Ah, semoga aku salah. Semoga itu semua hanya perasaanku saja.

 

Dear, ingatkah dulu kita membuat orang cemburu dengan kedekatan kita, bahkan mengira kita pasangan? Ingatkah obrolan pada malam-malam panjang kita? Dear, kamu pernah bilang cemburu pada waktu. Akupun begitu, rasanya ingin sekali membekukannya di suatu saat lampau ketika kita bersama.

Kemudian, apa yang menahan kita untuk membuat pertemuan-pertemuan selanjutnya? Bukankah kini jarak kita justru semakin dekat. Bogor-Jakarta hanyalah selemparan batu. Kesibukanmukah? Kesibukankukah? Atau … apa? Bukan jarak yang mengganjal di antara kita, Dear. Karena sejak awal, kita telah terbiasa dan kebal terhadap jarak. Hari itu hingga kini aku menyimpan sembilu. Aku merasa sepertinya telah menyakitimu tanpa dan dengan sadarku. Maafkan aku, Dear. Aku belum menuntaskan janji kita. Tapi aku selalu percaya, impian itu akan terwujud suatu hari.

 

Dear, aku menulis ini sambil memeluk Laura, memohon pada tokohmu itu agar perasaannya bukanlah perasaanmu. Dear, akupun ingin meminta sesuatu padamu. Jangan jadikan persahabatan kita fiksi. Aku tidak mau suatu hari kita hanya bisa mengenang persahabatan kita dalam karangan-karangan yang terinspirasi dari persahabatan ini. Dear, aku ingin terus menjadi tempatmu berbagi gelisah, seseorang yang ingin kamu bagi ketika bahagia, dan tempat menderaskan air mata saat bersedih. Dear, aku memang bukan Tuhan yang kesetiaannya melebihi semesta. Aku hanya seseorang yang mencoba memahami. Dan aku selalu tahu, kamupun begitu.

 

Ke mari, Sayang, kita minum kopi, lalu bertukar cerita yang tidak berujung. Mari berpelukan yang hangatnya memindahkan matahari ke dalam hati. Mari bermimpi tinggi-tinggi lagi.

 

Dear, sebelum kusudahi surat ini, aku ingin sekali lagi berbisik di telingamu, “Jangan jadikan kita sekadar fiksi.”

 

*peluk erat dan cium basah untukmu yang kusayangi*

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Jangan Jadi Fiksi

  1. Pingback: Di Balik Foto Kita | Taman Bermain Drop Dead Fred

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s