My Guilty Pleasure

IMG_38378083756948

 

Dear Prajurit Rumput: Fuan Fauzi.

Jangan marah ya kalau aku memanggilmu my guilty pleasure. Karena dulu, aku sempat menempatkanmu di posisi itu. Setara dengan hal-hal yang menurutku norak dan memalukan tapi diam-diam kusukai. Tapi itu dulu, sekarang aku dengan bahagia memanggilmu sebagai Lelakiku.

 

Sebaiknya kuputar ulang dulu waktu ke masa kita pertama kali bertemu.

 

November 2011, di kafe Jambordroe kita bertemu dalam acara launching 10 buku antologi grup penulisan Cendol yang sama-sama kita ikuti. Saat naik ke lantai dua kafe, aku melihatmu sedang sibuk mengambil foto acara. Penampilanmu saat itu … Hmm … Cukup berantakan. Rambut keriting yang tampak tidak disisir selama lima ratus tahun, wajah yang polos dan tidak menarik–di mataku, dan baju kebesaran. Prajuritku, sampai sekarang penampilanmu masih begitu sih, tidak stylish. Heuheu untungnya aku juga sama. Kita jadi pasangan harajuku jadi-jadian. Kembali ke hampir 4 tahun lalu. Detik saat melihatmu firasatku mengatakan kamu langsung tertarik padaku.

Ada satu kejadian lucu sekaligus menyebalkan kala itu. Saat itu ada seorang teman memintaku menandatangani novel Dunia Trisa. Karena jarak tempat duduk jauh dan meja hanya ada satu di depan untuk penerima tamu, akhirnya aku memilih untuk jongkok. Pasti kamu bermaksud ingin merekam kejadian itu karena kamu anggap unik atau bersejarah. Tapi karena aku merasa memakai rok yang agak ketat, aku tidak suka poseku yang sedang jongkok diabadikan. Maka aku mendekatimu dengan galak. Misuh-misuh memintamu menghapus foto itu saat itu juga. Kamu yang terkaget-kaget menurut saja. Kalau sekarang aku teringat ekspresi polosmu saat itu, aku selalu geli sendiri.

 

Setelah itu kita beberapa kali bertemu di acara grup penulisan. Masih sama, bagiku kamu tidak istimewa. Hanya seorang adik junior yang seringkali matanya kutangkap diam-diam merekam wajahku.

Bertahun sudah kita saling mengenal. Lalu terjadilah berbagai badai dalam hidupku. Aku mengalami perpisahan yang menyakitkan. Waktu itu aku tertutup soal masalah yang menerjangku. Hanya beberapa sahabat dekat yang kubagi dan kuminta nasehatnya. Anehnya, meskipun aku tidak pernah bercerita apa-apa padamu, saat aku merasa sedih dan gelisah, kamulah orang pertama yang meng-SMS-ku untuk mengatakan, “Kak, kamu sedang ada masalahkah? Perasaanku enggak enak inget Kakak.” Begitu berulang setiap kali aku merasa resah. Tentu saja, pesan-pesan itu tidak kubalas, kalaupun kadang hanya kujawab, “Enggak ada apa-apa kok.” Yah kupikir siapa kamu ini, bukan sesiapa dan sama sekali tidak istimewa di hidupku. Untuk apa aku berbagi denganmu. Kadangkala, malah aku memarahimu. Tapi dasar kamu si prajurit rumput yang terus tumbuh meski kuinjak-injak berulang kali. Rumput itu malah tumbuh kian mengganas menjadi alang-alang yang tinggi. Waktu kutanyakan kenapa kamu selalu tahu perasaanku, kamu menjawab sok puitis ala novel perahu kertas, “Karena aku sudah menancapkan radar pada diri Kakak.”

 

Prajuritku, kamu masih ingat ketika mengatakan, “Aku ingin jadi prajurit yang maju di depan melindungi ratu.”

“Kenapa harus prajurit?” tanyaku.

“Karena prajurit pasti turun dalam perang.”

Setelah itu aku memanggilmu prajurit rumput. Prajurit yang dibunuh berkali-kali, tapi seperti kucing yang punya sembilan nyawa. Terus maju untuk meluluhkan hatiku.

Kamu tahu, Prajuritku. Saat aku menyadari ada yang berubah di hatiku, aku begitu malu dan sekuat tenaga ingin menghalaunya. Memiliki perasaan padamu adalah hal terakhir yang kupikirkan. Bagaimana bisa? Kamu juniorku, kamu lebih muda, kamu bukan tipeku, dan sejuta alasan lainnya.

 

Namun di antara segala perbedaan itu, ternyata kamulah yang memenangkan hatiku. Membuatku merasa bersalah pada diri sendiri ^^V Tapi seperti yang kita tahu, sekali lagi kamu membuat keajaiban dalam hidupku. Sang guilty pleasure berubah menjadi belahan jiwaku. Kamu memang bukan lelaki yang membuatku merasa jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi aku memintamu, jadilah lelaki yang hingga selamanya membuatku tak lagi ingin memandang siapa-siapa.

Advertisements

9 thoughts on “My Guilty Pleasure

  1. Pingback: Kisah Kita Di Negeri Realita | Taman Bermain Drop Dead Fred

  2. Ya ampun, aku mewek lagi. Teteh, mas ku yang sekarang adalah lelaki yang dulu ga pernah aku pikirkan juga. Tapi kemudian … sekarang, aku selalu takut dia pergi, bahkan bilang bye bye becanda aja, aku udah mellow dan mau nangis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s