13 Tahun Lalu, Saat Kita Abu-abu

 

IMG_67202102625080

13 Tahun Lalu, Saat Kita Abu-abu

: CS29

 

Dear Wulan, Heppy, Windy, Oke, Kuah, Gia, Razi, dan Maqi.

Aku ingin menyebutkan formasi lengkap CS29 kita, 11 orang. Tapi, yah, seperti kita tahu. Sebagian dari kita sudah tumbang, tak lagi pernah berkumpul apalagi berkabar.

Apa kabar kalian? Rasanya pertanyaan itu tidak perlu, karena untungnya kita masih terhubung lewat Facebook—terima kasih, Mark Z. Minimal saat aku ingin tahu tentang kalian, aku bisa sedikit mendapatkannya dari hal-hal yang kalian share di media sosial. Selain itu, kita masing-masing masih menyimpan no ponsel, kan? Dan sebagian kadang bertukar cerita di BBM.

Kita sudah berlainan kota sekarang, Wulan di Bekasi, Oke dan Maqi di Jakarta, dan Heppy, Razi, Kuah, Gia di Bandung.

Sudah banyak hal terjadi yang kulewatkan ya. Gia, maaf banget enggak hadir di nikahan kamu. Kuah, selamat ya kelahiran bayinya ^_^

 

Hari ini aku ingin mengenang peristiwa-peristiwa yang kita lalui 13 tahun lalu, saat kita masih berseragam putih-abu, dan ketika jiwa kitapun memang abu-abu. Iya, kala itu hidup memang berada di tataran abu-abu, tidak ada yang benar dan salah. Kita yang muda dan menggebu, penuh harapan dan petualangan.

Aku ingat pertama kali ketika membaca pengumuman pembagian kelas. Kalian tahu, waktu itu aku kecewa sekali ditempatkan di kelas 2-9. Kelas bontot yang katanya dipenuhi anak gaul dan nakal. Kenapa? Karena aku merasa mungkin di kelas itu akan dikucilkan. Yah, aku merasa tidak bisa berbaur dengan anak-anak gaul. Aku lalu mencari teman ke sana-sini, siapa yang mau bertukar kelas. Untungnya tidak ada yang mau 😀 Lagipula ada Wulan di kelas 2-9 yang sabar sekali jadi teman sebangku selama tiga tahun 😄

Tanpa kusangka, ternyata di sana aku bertemu kalian. Entah bagaimana awalnya, kita menjadi dekat. Padahal aku sering mati-matian menjauh karena minder. Jam-jam istirahat kita habiskan di taman belakang sekolah, memesan segelas minuman dengan sebelas sedotan. Terkadang kita main keliling kota dengan mobil Agung, menyetel lagu keras-keras dan ikut menyanyi merjerit-jerit. Kalau sedang datang rajinnya, kita berkumpul di rumah Maqi—yang kita tahbiskan sebagai basecamp—untuk belajar bersama. Kalau bosan, para cewek akan ngerumpi di ruang tengah, sedang para cowok sibuk menembaki orang dalam game. Atau makan roti kadet di dekat rumah Razi. Oh, jangan lupakan soal hari-hari bolos kita.

Persahabatan kita pun sering diguncang. Mulai dari teman-teman sekelas yang tak rela ada geng-gengan, sampai persoalan cinta. Iya, ada banyak cerita cinta di antara kita. Akupun mengalaminya. Di antara kita pernah ada saling mencintai, menyayangi, pun saling melukai. Untunglah, dari sekian cerita cinta, ada satu pasangan yang ditakdirkan Tuhan hidup bersama. Maqi dan Windy, penantian selama lebih dari sebelas tahun akhirnya berbuah indah. Sebentar lagi, keluarga kita akan kedatangan CS29 junior lagi dari mereka.

Setahun berlalu secepat kilat Zeus. Kitapun terpisah kelas. Kemudian tiba juga hari paling memilukan buatku: perpisahan.

Hari itu termasuk hari yang paling kubenci dalam putaran waktu. Karena setelah itu, kita dipisahkan. Kalau ada satu penyesalan di masa lalu. Itu adalah hari kelulusan. Karena hari itu, aku membiarkan baju seragamku bersih tanpa coretan. Tanpa membiarkan tangan-tangan kalian menorehkan kenangan.

Kemudian kita melanjutkan hidup masing-masing.

Awalnya kita masih berhubungan, berbagi kisah lewat suara dan kata. Kadang-kadang kita hang out bersama. Namun lama kelamaan segalanya berubah. Entah sejak kapan, kita mulai enggan membagi cerita. Kemudian, seolah kita tidak lagi memiliki waktu, meski hanya waktu sisa untuk sebuah pertemuan singkat.

Setelahnya, detik berlalu seperti derasnya titik hujan dalam badai.

Kita pun saling melupakan.

Keberadaan yang tergantikan.

Sebagian dari kita berubah menjadi sosok dalam kenangan.

Dan yang paling membuatku sedih, seringkali kalian melewati hari-hari berat tanpa kutahu. Seperti saat Mama Windy meninggal, atau ketika Wulan dan Heppy mengalami masalah keluarga. Akupun sama tertutup, saat tragedi datang padaku, tak satupun di antara kalian yang kuberi tahu.

Namun aku tahu, kita selalu ikut merasa berbangga untuk setiap prestasi kita. Dan menyisipkan doa-doa untuk kebahagiaan kita.

Pernah aku berjanji, ingin mengabadikan kisah kita dalam novel. Novel itu sudah selesai kutulis pada tahun 2008, sayangnya tidak ada penerbit yang mau menerbitkannya. Nanti akan kucoba tulis lagi. Tapi kalau mungkin aku tidak bisa menepati janji itu, nama kalian selalu kusebut dalam buku-bukuku, dan akan selalu begitu. Terlepas dari apakah kalian membacanya atau tidak 😄

Teman-teman, terima kasih telah membuat masa remajaku menjadi masa paling indah. Semoga persahabatan kita selamanya. Aku ingin kita seperti dulu, berbagi kisah tanpa sekat. Dekat meski dipisahkan jarak.

Kalau bisa kembali ke masa lalu, aku ingin sekali lagi … melewati masa SMA bersama kalian.

 

NB: Foto satu-satunya, dan kita keliatan culun banget.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s