Melawan Baby Blues – Untuk Semua Ibu

Dear para ibu muda,

Siapapun pasti setuju, menjadi seorang “ibu” adalah anugerah. Namun, orang seringkali lupa, tugas maha hebat selalu disertai bobot tanggung jawab besar.

Ibu muda, aku pernah di posisi kalian. Tidak sabar menggenggam tangan mungil yang saat itu masih berada dalam kandungan. Ingin cepat mendekap tubuh hangatnya, dan mencium penuh kasih puncak ubun-ubunnya. Namun, tanpa menafikan bahwa kenyataannya kehadiran buah hati membuat diri terasa lengkap, datang pula bersamanya terpaan badai.

–Ah iya, sebelumnya izinkan saya menggunakan kata “kita” sebagai sebutan. Meskipun banyak di antara ibu muda yang mungkin tidak mengalami hal ini–

Ada perasaan takut yang begitu hebat. Takut salah memandikannya, takut melukainya, sampai takut salah mendidiknya. Apa kita sudah memberinya cukup gizi, apakah pilihan tepat memberinya imunisasi, dan sederet pertanyaan lain. Masalah bayi tidak mau minum susu langsung dari puting pun menjadi momok yang membuat mood kita seharian turun drastis. Perasaan takut itu wajar, karena selayaknya seorang ibu, kita ingin memberi yang terbaik untuknya. Namun semua diperparah dengan tekanan orang-orang sekitar kita. Seolah karena kita memiliki bayi, mereka berhak menjadi guru tanpa cela untuk kita. Mengomeli dan mengomentari ini itu yang kita lakukan. Mencibir bahwa seharusnya yang kita lakukan adalah A-Z bukan Z-A. Harus kita akui seringkali apa yang mereka katakan benar adanya, merekapun menyatakan berbagai hal itu karena sudah berpengalaman. Dan tentu saja kita harus menghormati mereka atas itu. Tapi mereka lupa, ada yang berubah dari waktu ke waktu. Ada keadaan yang tidak sama dengan zaman mereka dulu. Ya kita menyadari apa yang mereka lakukan semata karena cinta.

Ibu muda, saat stres merayap menguasai pikiran, kita hanya bisa menangis diam-diam membasahi bantal. Tak tahu pada siapa beban ini bisa dibagi. Suami? Seringkali kita sudah sungkan duluan dengan pemikiran dia pasti tak akan memahami. Apalagi bila orangtua kitalah justru yang menjadi akar tekanan itu. Padahal dia pasti mau mencoba paham, bukankah dia setengah dari kita?

Stres yang bertumpuk perlahan memupuk depresi. Itupulalah yang seperti menjadi pemicu banyaknya kekerasan ibu pada anak. Banyak orang lebih suka menyalahkan ketimbang berempati. Yah, memberi hukuman lebih mudah daripada mencari solusi. Sayangnya kita tidak bisa berteriak-teriak meminta pemahaman pada semua orang. Padahal yang kita minta adalah pengertian bahwa kita sedang belajar menjadi ibu, bahwa dalam tahapannya kita ternyata kita tak sengaja banyak berbuat salah. Hanya itu, bukan dianggap sebagai ibu yang buruk dan dibodoh-bodohi.

 

Kita kemudian didoktrin bahwa sudah tak layak seorang ibu membagi waktu dengan teman-temannya. Seakan seluruh hidup kita hanya dipersembahkan untuk anak semata. Membuat posisi kita menjadi pelayan bukan orangtua. Hak kita sebagai manusia yang memiliki hasrat dibelenggu. Belum lagi ketika para sahabat menjadi berbeda, karena mereka belum menginjak tahapan kita, mereka belum paham dunia baru kita, hingga perlahan mereka menjauh.

Lalu ada perasaan bersalah yang ditanamkan dalam nurani ketika harus bekerja meninggalkan anak. Padahal banyak di antara kita yang sesungguhnya memang ingin berkarier di rumah saja tetapi keadaan tidak memungkinkan. Tiap waktu kita berkejaran dengan dilema. Antara anak dan karier, seakan keduanya tidak bisa seiring sejalan.

 

Begitu banyak tekanan dari dalam dan luar diri kita hingga tiap saat rasanya bisa meledak. Menjadi ibu kemudian terasa sebuah kewajiban bukan hak.

Ibu muda, seringkali kita malu mengakui kalau kita lelah. Lelah jiwa dan raga. Malu pada dunia dan nurani karena merasa kita bukan ibu yang baik. Namun semesta selalu membuat keseimbangankeseimbangan, bukan. Selalu ada baik buruk dalam tiap keadaan. Mengakui diri lelah bukan kehinaan. Justru dari titik lemahlah kita bisa mendapat pencerahan diri. Kita belajar menyusun strategi untuk berbenah. Anak yang berbahagia lahir dari ibu yang sehat mental. Karena itu tugas pertama kita adalah menjadi manusia dan ibu yang sehat jiwanya.

 

Ibu muda, kita bisa melawan sindrom baby blues itu bersama. Karena kita tidak sendirian mengalaminya. Kita bisa saling menguatkan. Berbagi tips bagaimana sedikit-sedikit menyampaikan kegundahan kita pada suami belahan jiwa. Atau sekadar bertukar cerita.

Kitapun bisa terus berkarya, bahkan melibatkan anak. Mungkin mulai menuliskan dongeng yang dapat kita ceritakan mengantar anak tidur. Bisa pula kita merajut dan membuat kerajinan tangan untuk mempercantik anak, hingga bisa kita dengar tawanya dibalik busana buatan sendiri. Sembari jalan-jalan, mari kita jadikan anak objek kamera kita, sekaligus menyalurkan hobi foto. Ah mari kita kerahkan seluruh kreativitas untuk meredam stres menjadi pencapaian dengan membagi waktu lebih bijak. Waktu untuk anak, suami, dan diri.Β Satu hal lagi yang amat penting, melibatkan Tuhan dalam kehidupan. Karena keterbatasan yang diberi Tuhan selalu bermata berlian.Β 

Mari menjadi ibu yang berbahagia dengan menyerukan hati kita. Yakin saja kita telah berusaha menjadi ibu nomor satu untuk si kecil. *peluk jauh untuk kita*

Advertisements

4 thoughts on “Melawan Baby Blues – Untuk Semua Ibu

  1. Saya juga pernah mengalami baby blues. Perlu proses panjang untuk “sembuh” dari sindrom itu dan seiring berjalannya waktu hilang sendiri karena telah terbiasa menjalankan tugas sebagai ibu dan selalu belajar dari kesalahan, juga curhat pada yang lebih berpengalaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s