Susahnya Menulis Kisah Cinta

 

Tahun lalu saya berjanji pada diri sendiri untuk mulai menulis lebih banyak tentang dunia penulisan di blog ini. Temanya bisa apa saja. Mulai dari proses kreatif, isu dunia penerbitan, sampai tips promosi buku.

 

Untuk postingan pertama, saya ingin sedikit membahasa tentang tema cinta dalam novel pop yang banyak beredar.

 

Menurut saya, menulis tema kisah cinta murni—yang berarti enggak bercampur dengan tema besar lainnya seperti pembunuhan—itu susah. Soalnya, kalau dulu mungkin tema cinta yang ceritanya berkisar “Cewek-cowok ketemuan >> lalu pedekate >> jadian >> putus (bisa jadi karena orang ketiga) >> balikan >> tamat” masih sangat menarik pembaca, sekarang dianggap “klise banget”. Iya, udah  klise pakai banget lagi. Jangankan yang ceritanya begitu, yang ditambah unsur persahabatan, pem-bully-an aja masih dianggap klise. Baca saja komentar-komentar di Goodreads sampai obrolan di status Facebook.

 

Misalnya:

Ceritanya sih klise, tentang sahabat jadi cinta.

 

Yah, bosen, klise banget ceritanya. Masih aja soal cewek-cowok yang awalnya sering bertengkar kayak Tom dan Jerry akhirnya jadi saling cinta.

 

Hmm, klise banget deh ceritanya. Cinta segitiga sama sahabat sendiri. Temen makan temen.

 

Udah ketebak banget ending-nya. Basi.

 

Tuh, kan, kayaknya kata “Klise” sering banget muncul. Kata “Klise” sendiri dalam KBBI.web.id berarti gagasan (ungkapan) yang terlalu sering dipakai. Jadi pembaca mulai jenuh dengan tema cinta yang ceritanya itu-itu saja. Karena itu sekarang sering ditemukan promo buku yang mengatakan “ceritanya bukan sekadar kisah cinta”. Bukan menganggap cerita kisah pure cinta rendah kedudukannya, tapi sepertinya untuk menambah nilai tambah dan jual agar pembaca yang jenuh tadi menjadi tertarik membaca bukunya. Bisa jadi, saking susahnya menuliskan kisah pure cinta, cinta hanya dijadikan bumbu penyedap cerita, bukan menu utama.

Jelas banget dari kasus di atas, kalau menulis tema cinta itu sekarang susah. Namun bukan berarti tidak ada usaha memberi kebaruan atau minimal memberi sesuatu yang berbeda dalam penyajiannya. Banyak kok. Salah satunya misalnya dengan mengambil seting luar negeri lengkap dengan penjelasan budayanya. Program “Setiap Tempat Punya Cerita” milik Gagas Media salah satu yang berhasil dengan penyajian ini. Atau dengan seting daerah pelosok-pelosok Indonesia yang jarang diangkat. Pasti ada sejuta siasat dan jurus membuat hal klise ini tetap sangat dicintai.

 

Jadi kalau ada yang bilang nulis kisah cinta yang ceritanya “Cewek-cowok ketemuan >> lalu pedekate >> jadian >> putus (bisa jadi karena orang ketiga) >> balikan >> tamat” itu gampang, sepertinya sudah tidak berlaku lagi sekarang. Para penulis romance ini harus bersaing dengan jutaan kisah serupa di buku-buku lama dan baru, karena itu mereka harus membuat karyanya berbeda meskipun dengan premis yang sama. Bagaimana membuat buku yang terbit nanti dilirik pembaca dari ribuan buku dengan tema serupa yang di-display di rak buku. Terbayang, kan, susahnya? ^_^ Perbedaan itu bisa dibangun dari penajaman karakter tokoh yang kuat, unik atau membumi. Contohnya, jangan memakai karakter tokoh yang mirip-mirip dengan yang dipakai di buku lain. Semisal cowok ganteng ketua OSIS. Bikin tokoh cowok biasa tukang hacker *eh. Perbedaan lain bisa digali dari kekayaan kosakata, diksi, dan metafora. Latar tempat dan waktu. Budaya. Dan banyak lagi.

 

Ngomongin ending, memang sih kisah cinta ya akhirnya cuman dua. Bersatu atau berpisah. Atau kalau tokohnya banyak, tebak-tebakan pembaca berkisar, jadi sama si A atau B. Tapi minimnya kemungkinan ending itu bukan menyurutkan kreativitas, kan.  Seringkali yang paling penting adalah jalinan lika-likunya ketimbang ending. Lebih penting “Kenapa” dan alasan-alasan lainnya sehingga sampai ke ending itu. Misalnya, ternyata alasannya tokoh-tokohnya berpisah karena salah satunya meninggal, padahal awalnya dibuat sepertinya akan berpisah karena perselingkuhan. Eh tapi, suka sebel juga sih kalau akhirnya enggak sesuai yang saya—ketika menjadi pembaca—harapkan.

 

Kalau kamu sedang menulis kisah cinta, jangan berkecil hati ketika dibilang klise ya. Menulis saja sebaik-baiknya. Perkaya kisah cinta dalam tulisanmu dengan berbagai hal. Lalu, selamat menulis kisah cinta yang luar biasa ^^

 

Advertisements

15 thoughts on “Susahnya Menulis Kisah Cinta

  1. Salam kenal. Jaman dulu ketika booming chicklit, novel bertemakan cinta, sangat populer. Tapi sebenarnya jauh kebelakang, novel2 bertemakan cinta tetap ada. Cuma dengan tata bahasa yang sastra. Tidak juga pada novel sebenarnya, lagu, film. Tema percintaan adalah tema yang sangat mudah untuk dikomersialkan.

  2. Ah, teteeeh. Baca ini aku jadi dilema hahaha

    Disisi lain, sebagai pembaca bener banget “udah bosen sama yang klise” tapiii saat menulis cerita aku sampe mumet sendiri gimana bikin sesuatu yang menarik, saat tahu yang klise-klise sekarang udah ngebosenin haha

    Seru blognya, ku bookmark ah :))

  3. Waduh, ilmunya banyak banget mbak. Makasih lho, udah mau berbagi. Aku sih, kalo soal nulis cinta gitu, gak bisa full cinta. Takutnya Baper meradang. Tapi setidaknya aku belajar banyak dari post ini.

    Salam kenal mbk, baru pertama mampir.

  4. Sejatinya, aku emang kurang bisa nulis cinta yang bener-bener full ngomogin cinta. Kadang suka kebawa suasana baper yang meradang. Belum lagi jumlah gebetan yang tak sebanyak rumput di lapangan hijau. Tapi, satu hal aku bisa banyak belajar dari post ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s