Behind The Book Trailer – Part 1: Before The Freaky Day.

Udah pada nonton book trailer TwiRies?

Iya yang ini …. *nunjuk ke bawah*

 

 

Sebenernya, saya enggak tega liat diri sendiri tiap muter book trailer itu. Hmm, gimana ya. Malu aja liat diri sendiri. Mending ya kalau aktingnya bagus, ini mah pas-pasan gitu. Memang, sesungguhnya saya orang narsis yang pemalu -__-” Iya saya juga bingung, narsisΒ  tapi setengah-setengah. Apalagi pas temen saya bilang, “Maaf ya, Va, tapi akting Evi lebih bagus.” Jlebnya itu kayak jauh-jauh dateng ke Paris buat liat Eiffel, eh, ternyata menaranya dipindahin ke Jakarta πŸ˜₯Β  Tapi ya sudahlah, berhubung susah nyari pemeran anak kembar cewek sebagai pengganti kami, jadi saya terpaksa main juga << alibi banget, padahal memang kepengin main.

Ngomong-ngomong, saya pengin cerita tentang pembuatan TwiRies book trailer ini. Hmm, mari kita mulai dari pembuatan skenarionya.

 

H min entah berapa hari.

Dari TwiRies masih berupa corat-coret outline, kami–saya dan Evi–sudah memikirkan membuat book trailer-nya. Tapi konsep dan ceritanya belum pasti. Pokoknya adegannya akan kami ambil dari bukunya, tapi enggak tahu bagian yang mana. Tiap kali kami ngobrolin soal book trailer ini, jawaban kami sama-sama: Iya, lagi dipikirin. Padahal sih ngarep kembarannya yang bikin konsep (si kembar pemalas). Sampai buku udah kelar cetak, itu skenarionya enggak jadi-jadi. Kami pun terkena panic attack!

Malam itu kami rapat di meja bundar (asli meja di rumah Evi memang bundar) dengan agenda membuat skenario ekspres. Bergelas-gelas kopi disiapkan, berpiring-piring camilan siap dimakan, berlembar-lembar kertas digelar, dan dua laptop sudah standby. Sejam, dua jam, sampai tiga jam berlalu dengan hasil … ngegosipin artis, ludesnya camilan dan kopi, juga kertas yang masih bersih. Ternyata enggak kerasa udah jam 3 pagi, pantesan aja udah ngantuk berat. Tapi demi mengurangi rasa bersalah karena enggak ada kemajuan bikin skenario. Kami memaksakan diri. Ajaibnya cuman sepuluh menit aja kami udah selesai bikin konsepnya. The power of kepepet memang selalu bisa diandalkan. b^^bΒ Β  Intinya sih ngambil dari kata pengantar saya sekaligus blurb (sinopsis belakang buku) yang dimodifikasi. Udah cuman gitu aja, dini hari itu kami puas menghasilkan konsep dan kembali menjadikan skenario sebagai peer -___-” Singkat cerita, beberapa hari setelah itu skenarionya beres juga.

 

H min 3

H-3 kami berdiskusi soal skenario dengan sutradara Pak Bambang dan kameramen A Cepi. Kami menceritakan konsep kami diiringi lagu doraemon “Kami ingin begini, kami ingin begitu, ingin ini, ingin itu banyak sekali”.

A Cepi: Buat opening-nya coba tambahin satu adegan lagi yang memperlihatkan kekembaran aneh kalian.

Setelah berpikir keras, akhirnya kami menambahkan adegan di kasir. Itu loh adegan yang kembaliannya mesti sama >.< Jadilah skenario itu kami revisi lagi.

Pak Bambang: Tipis banget skenarionya, paling jadinya tiga menitan. Kalau cuman segini sih, syuting dari pagi juga jam 12 siang kelar.

Saya dan Evi ngangguk-ngangguk.

 

H min 2

Skenario >> Cek!

Sutradara dan crew >> Cek!

Pemain >> nggg … gimana iniiii, kurang satu pemainnya!!!

H-2 seluruh crew kumpul di rumah kembar buat latihan sekaligus briefing. Tapi kami punya satu masalah, pemainnya kurang satu. Kami pun kasak-kusuk nyari. Telepon sana-sini. Sampai mau bikin iklan baris di koran, tapi enggak jadi karena keburu ada korban yang merelakan dirinya. Hohoho. Fiuh, berkuranglah satu kesetresan.

Latihan pun dimulai dengan kalimat pembuka yang epic banget dari Pak Sutradara, “Kalian mau jadi artis, gak?” Langsung semua bersorak bahagia ngebayangin duit segepok. Ngarep beneran diajakin Pak Sutradara main sinetron, hohoho.

Satu persatu pemain diarahin sutradaranya–Pak Bambang. Setiap orang disuruh mendalami kekhasannya sendiri. Soalnya dari skenarionya aja kami bikin karakter tokoh berdasarkan karakter asli pemainnya. Jadi kalau tokoh Shita itu galak aslinya emang gitu, kalau Lenny itu lemot aslinya juga gitu, kalau Alva itu konyol aslinya lebih parah *kemudian dikepung Shita, Lenny, dan Alva*

Giliran saya dan Evi pun tiba. Ada beberapa adegan yang mengharuskan kami kompak, tapi kami enggak kompak terus. Sutradara sampai capek ngomong “ulangi” sambil geleng-geleng kepala. Tapi giliran lagi enggak dipelototin, kami malah lancar jaya.

“Ini kalian pasti nervous gara-gara saya terlalu ganteng,” ucap Pak Sutradara kepedean -__-”

Latihan yang cuman dua jam itu pun ditutup dengan adegan rebutan gorengan. Pak Sutradara yang melihat kami kecapean latihan lalu ngasih wejangan yang jleb banget, “Duh, kalian latian segitu aja udah kecapean, gimana mau jadi artis. Syuting apalagi buat sinetron striping tuh capek banget loh.” Mendengar itu, kami pun menabahkan diri seolah-olah tadi enggak ngerasa capek sama sekali TT__TT

 

behind1Latihan sebelum syuting. (Foto: Fuan Fauzi. Editing: Evi Sri Rezeki).

H min 1

Satu hari menjelang freaky day niat kami sih mau latihan berdua, berhubung kemarinnya masih salah-salah dan kaku. Tapi ternyata masih banyak persiapan lain yang mesti diurus, semisal listrik buat alat-alat syuting, nyocokin kostum, make up, dan seterusnya, dan selanjutnya, dan … dan … sebenernya udah lupa ngapain aja, pokoknya waktu itu saking sibuknya, rencana latihan terbengkalai dan enggak kesampean 😦 Bahkan kami tidur larut malam. Soalnya selain (sok) sibuk, kami kayak anak kecil yang baru dikasih mainan keren, saking excited sekaligus ngeri ngadepin syuting besok jadinya susah tidur. Padahal harus bangun pagi dan enggak boleh kesiangan.

Apakah bener syuting book trailer ini bakalan selesai jam 12 siang? Atau malah mangkir ke jam 12 malam? Gimana proses syutingnya? Ikuti kelanjutan ceritanya di part 2 ya.

behind4

Syuting adegan opening. (Foto: Fuan Fauzi. Editing: Evi Sri Rezeki).

Advertisements

11 thoughts on “Behind The Book Trailer – Part 1: Before The Freaky Day.

  1. Waah ini syuting beneran,
    *nunjuk lighting
    Ha ha katro banget.gue.
    Pantesan hasilnya maksimal. Keren deh! Baru kali ini lihat book trailer yang dikemas dalam bentuk short story dan dimainkan cast, bukan dalam bentuk animas.
    Te o pe be ge te deh!
    Suka dialog tentang mata sipit-sipit belo dan belo-belo sipit.
    πŸ˜€

  2. waaaaah MbakAyamku sama Mbak Epi kereeeeeen πŸ˜€
    paling keren adegan pas menyipitkan mata πŸ˜€ sumpah keren *nyoba menyipitkan mata
    kalo diliat-liat perbedaannya itu di “pipinya” walaupun sama-sama tembem sih *towel empat pipi
    yang menyedihkan itu adegannya kurang puanjang dan luama huhu
    semangkaaaaaa MbakAyamku sama Mbak Epi
    yes yes yihaaaa…

  3. Pingback: 12 Cara Mempromosikan Buku [Bagian Pertama] | Taman Bermain Drop Dead Fred

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s