Warung Kopi Punya Cerita – Review Film “Kisah 3 Titik”

Saya bukan penggemar Lola Amaria, pun selalu tidak tertarik menonton filmnya. Tapi waktu baca sinopsis film ini, saya cukup tertarik. Meskipun sempet gamang buat memilih nonton film lain, berhubung film-film Indonesia yang diputar di bioskop kali ini sedang banyak dan setelah baca review-nya bagus-bagus. Lalu inilah hasil dari nonton film “Kisah 3 Titik”. Sebelumnya maaf, review ini mengandung spoiler.

SINOPSIS

Film “Kisah 3 Titik” ini bercerita tentang 3 perempuan pekerja yang memiliki kesamaan nama yaitu Titik. Yang pertama Titik Sulastri (Ririn Ekawati), merupakan seorang janda beranak dua yang bekerja sebagai pegawai kontrak yang memiliki upah rendah di sebuah pabrik garmen.

Kedua, Titik Dewanti Sari (Lola Amaria), wanita single yang usianya tidak muda lagi yang memiliki posisi bergengsi di sebuah perusahaan raksasa penuh skandal dan kasus. Dan yang terakhir, Titik Kartika atau Titik Tomboy (Maryam Supraba), anak preman yang bekerja sebagai buruh pabrik rumahan yang berani dan tidak takut mati demi keadilan.

Bukan hanya nama mereka saja yang sama, mereka sama-sama terjebak dalam situasi yang membuat hidup mereka berubah 180 derajat. Langkah apa yang akan mereka ambil untuk bisa keluar dari situasi tersebut? Mampukah ketiga Titik tersebut melakukannya?

REVIEW

Kenapa saya beri judul Warung Kopi Punya Cerita? Karena di sanalah kehidupan para buruh terkuak.

Film ini sudah membangun ketegangan dari awal. Rangkaian kisah dari satu Titik ke Titik lain hampir mulus. Sayangnya bagian Titik Kartika singgungannya terasa kurang. Tiga Titik dengan karakter yang berbeda-beda mempunyai satu kesamaan karakter: tidak menyerah pada keadaan.

Dari ketiga kisah Titik, cerita tentang Titik Sulastri—selanjutnya saya sebut Sulastri—yang diperankan dengan sangat brilian oleh Ririn Ekawatilah yang paling menyentuh. Sebagai janda muda beranak satu dan sedang mengandung pula, Sulastri memilih bertahan hidup di Jakarta karena makam suaminya berada di kota itu. Sebuah alasan konyol tapi touchy. Konyol dan nekad. Sedikit mengada-ada. Alasan yang terlampau melow tidak sesuai keadaan. Kalau saya ini Sulastri, sudah pasti memilih pulang kampung. Di Jakarta tidak punya siapa-siapa. Lagipula kasian anak yg masih kecil. Tapi begitulah dramatisasi kisah Sulastri ini bergulir.

Keadaan itu membuat Sulastri harus bekerja sebagai buruh pabrik. Dari kisah ini juga kita bisa melihat betapa sulitnya kehidupan seorang janda, di mana pun dan apa pun yang dia lakukan bisa menjadi bahan gunjingan. Ketika bekerja, anak Sulastri dititipkan pada Mbah—seorang waria tua—tetangganya. Hubungan tolong menolong antara Sulastri, Mbah, dan Juwita—waria muda—memperlihatkan bahwa kita tidak bisa menilai kebaikan hati dari penampilan luar. Di bagian Sulastri kritik tajam film disampaikan pada ketidakmanusiawian peraturan pabrik yang tidak memberi waktu seorang ibu menyusui menampung air susu di botol. Padahal hal itu sangat penting untuk anak dan ibu. Anak tetap mendapatkan ASI, dan ibu tetap sehat.

Lalu kisah tentang Titik Kartika—selanjutnya saya sebut Kartika—yang terpaksa menjadi tomboy karena kehidupan keras di lingkungan preman. Dibalik kekerasan hatinya tersimpan kesepian, meskipun dia mengatakan sudah biasa sendirian. Di part kartika ini saya paling suka bagian romantismenya. Nggak ada adegan pelukan atau ciuman. Cukup digambarkan dengan Kartika yang salah tingkah ketika Atok–teman kerja, sahabat, sekaligus pria yang menyukai Kartika–datang ke kosannya. Kartika malah membereskan barang-barangnya. Adegan itu bisa bikin deg-degan dan romantisnya kerasa. Salut! Kritik tajam di bagian ini adalah ketika pabrik tempat Kartika bekerja memperkerjakan anak-anak SD untuk mengurangi cost. Agar anak-anak itu mau bekerja, mereka dicekoki dengan lem aibon sehingga mabuk.

Sedang cerita Titik Dewanti yang diperankan Lola—selanjutnya saya sebut Dewanti—merupakan perwakilan top manajemen pabrik. Dikisahkan bahwa Dewanti mati-matian memperjuangkan nasib para buruh, tetapi berjuang sendiri adalah kesia-siaan. Dewanti bukan hanya melakukan riset dengan wawancara langsung dengan para buruh, lebih jauh, dia memilih seharian nongkrong di warung kopi tempat para buruh biasa ke sana. Dan memang begitulah, warung kopi punya cerita. Kalau ingin tahu tentang kehidupan masyarakat sekitar, pilihan nongkrong di warung kopi adalah tepat. Dengan menguping pembicaraan mereka, tahulah kita semua rahasianya.

Kelebihan film ini memang dari ceritanya yang sangat kuat. Meski tetap ada bopeng di beberapa titik. Seperti kartu AS yang dipegang Kartika untuk melawan bos preman yang memanfaatkan anak-anak SD. Juga singgungan antara Kartika dan Dewanti secara langsung hanya di warung kopi. Kisah Kartika seperti berdiri sendiri. Selain itu kekurangan juga ada pada peran pemerintah dalam kasus buruh, dalam film ini hanya pada menyediakan undang-undang. Tidak ada singgungan secara langsung.

Pemilihan Ririn sebagai pemain sangat tepat, dari semuanya dia tampil sangat all out. Akting yang paling saya suka ketika dia terlihat sangat tersiksa karena tidak bisa mengeluarkan air susu. Natural. Akting Maryam Supraba sebagai Kartika juga bagus. Dia memang baru dalam dunia perfilman, tapi cukup senior sebagai aktris teater. Sedangkan akting Lola seperti biasanya tidak istimewa. Standar saja. Akting Inggrid sebagai pemilik warung juga sangat memuaskan. Dari segi akting, film ini bagus.

Dari sinematografi walaupun tidak begitu mengesankan tapi cukup baik. Pemilihan ending yang pas juga cerdas, bisa dibilang ending menggantung tapi cerita memang telah selesai. Masalah buruh memang seperti lingkaran setan, seperti tidak berujung. Kenapa ending-nya saya sebut cerdas? Karena kalau ending-nya bahagia, tapi enggak masuk logika, maka jatuhnya jadi utopis. Kalau ending-nya terpuruk semua, jatuhnya film ini seperti tidak memberi pengharapan bahwa hidup para buruh nantinya akan lebih baik.

Film ini memang depresif, tapi tidak terasa menggurui. Beberapa scene kritik disampaikan dengan humor segar menjadi nilai plus.

Ada satu kalimat yang jleb banget buat saya. Begini intinya, saya kutip intisarinya.

“Kalau upah buruh dinaikan, semua kebutuhan pokok akan ikut naik. Jadinya percuma. Kalau cost naik, pemasukan kurang, pabrik akan tutup. Akhirnya para buruh dipecat. Imbasnya pada semua perekonomian di sekitar pabrik, seperti warung kopi, dan kos-kosan. Kalau sudah begitu orang-orang akan menerima pekerjaan apa saja tanpa melihat besarnya upah. Mereka hanya butuh untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan sekedar ada yang bisa diperbuat.”

Film yang memberi banyak pencerahan. Enggak akan nyesel nonton filmnya. Film ini membuat saya salut pada Lola ^_^

Film ini saya beri rating 4 dari 5 Bintang.

poster-kisah-3-titik

Advertisements

8 thoughts on “Warung Kopi Punya Cerita – Review Film “Kisah 3 Titik”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s