Dibalik “Stalker G1N4” ada anak marmut

stalkergina

 

Lia, anak marmutku. Maaf, ya, lama balesan surat cintanya.

 

Kali ini aku mau cerita soal lomba yang kita ikuti. Lomba di satu grup FB. Kita berdua bukan pemburu lomba juga hadiah. Butuh chemistry yang kuat untuk mengikuti sebuah lomba. Karena menulis butuh panggilan hati, bukan sebuah rutinitas membosankan yang kita lakukan karena keharusan. Saat pengumuman lomba itu kita berdua sama-sama bersemangat, lalu berjanji agar dalam kumpulan cerpennya nanti bakalan ada cerpen kita berdua.

 

Lomba itu punya tiga tema. Kita memilih tema yang berbeda. Aku masih ingat betapa stresnya kamu menulis cerpen romance. Waktu itu aku malah membuat cerpen pertama dengan lancar. Sayangnya ternyata nggak masuk ke tema sehingga nggak lolos. Ah, sedih banget. Syukurlah punyamu lolos ^^

 

Cerpen pertama yang gagal itu aku kirim ke media. Setelah sekian lama nggak ngirim naskah ke media. Untungnya cerpen itu dimuat di koran lokal.

 

Cukup lama aku memikirkan ide selanjutnya untuk cerpen kedua. Sampai-sampai hampir menyerah. Saat itu kamu marah, Li. Kamu mengingatkan janji kita. Yah, kamu selalu memotivasi aku dengan caramu. Aku selalu takut kalau kamu marah, takut ditinggalkan. Pikiran konyol, ya, Li. Akhirnya aku berpikir lebih keras. Berkonsentrasi pada tema, pada sekitar untuk menemukan ide yang pas supaya tidak melenceng lagi dari tema.

 

Akhirnya cerpen kedua itu aku tulis juga di hari terakhir dengan durasi empat jam saja. Waktu yang fantastis untukku yang lelet. Satu cerpen biasanya kukerjakan dalam waktu seminggu sampai sebulan. Tapi selain sudah tidak ada waktu, ada wajah cemberutmu yang seperti memandori di sebelahku saat menulis ^^V

 

Tanpa meminta saranmu dulu, langsung kukirim. Cerpen itu belum kuedit atau kupoles, masih polos. Beberapa hari kemudian email lolos tahap satu membuatku jejingkrakan. Bukan karena senang lolosnya, tapi karena bisa memenuhi janjiku padamu yang membuatku senang.

 

Saat pengumuman, ternyata cerpen kita nggak masuk tujuh besar. Agak sedih karena kita tidak bisa merealisasikan satu mimpi. Tapi aku yakin setiap karya punya jodohnya. Dengan nggak pede, aku mengedit cerpen itu berlandaskan saran-saran juri dan tentu saja saranmu. Karena tokohnya laki-laki, aku kirim ke majalah khusus pria. Ngomong-ngomong, itu cerpen pertama yang tokohnya laki-laki. Entah kenapa saat itu aku merasa ingin saja. Li, kamu sendiri sangat jago menulis dari sudut pandang laki-laki. Pembaca bahkan tidak menemukan sisi feminim dari cerpenmu, benar-benar seperti ditulis laki-laki. Itulah kerennya kamu.

 

Satu bulan setengah kemudian aku mendapat email balasan kalau cerpenku akan dimuat! Orang pertama yang ingin kuberi tahu adalah kamu. Li, kamu selalu percaya aku. Walaupun seringkali aku ingkar janji, membuatmu bete, tapi selalu baikan lagi. Li, cerpen “Stalker G1N4” kupersembahkan untukmu. Cerpen itu ada karenamu. Terima kasih sudah memberiku pengalaman indah. Pengalaman pertama kali tembus media nasional.

 

Kamu memang marmut ajaib. Marmut keberuntunganku ^^

Surat ini surat balasan untuk surat cinta Vincetia Natalia. Baca suratnya untuk saya di sini:

http://donasaku.blogspot.com/search/label/Kumpulan%20Surat%20untuk%20Eva%20Sri%20Rahayu

Advertisements

4 thoughts on “Dibalik “Stalker G1N4” ada anak marmut

  1. Pingback: Taman Bermain Drop Dead Fred

  2. Pingback: Kutunggu Di Kotaku Anak Marmut | Taman Bermain Drop Dead Fred

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s