5 Kesalahan Penulis yang Menuliskan Kisah Pribadinya.

5 Kesalahan Penulis yang Menuliskan Kisah Pribadinya.

 IMG_20150820_110254

Katanya inspirasi tak terbatas itu hidup kita sendiri. Dekat, dimengerti, dan dapet banget rasa-nya. Yah, bener. Apalagi kalau hidup kita udah kayak drama. Mantaplah buat ditulis.

Etapi yakin kisah kita seseru itu? Atau cuman pendapat kita aja sebagai pelakunya. Apa bener orang yang baca akan menganggap kisah pribadi kita itu menarik? Atau justru malah bosan sampai ketiduran membacanya.

Menuliskan kisah nyata kita dalam bentuk novel atau cerpen bukan hal nista kok. Kalau kamu ngerasa hidupmu penuh dengan konflik, lebih drama dari drama, tulis aja! Kalau malu dan gak mau ketahuan itu curhat colongan, bisa kita samarkan banyak hal dalam tulisannya.

Penulis yang menuliskan kisah pribadinya ke dalam novel kadang ingin mengisahkan sesuai dengan keadaan aslinya, menuliskan dengan apa adanya. Karena itulah kadang penulis membuat pembacanya bingung dengan beberapa hal. Apakah itu?

5 Kesalahan dalam menulis cerita yang sebenarnya kisah nyata penulis:

  1. Menuliskan adegan per adegan sesuai dengan runutan kejadian yang asli dialami oleh diri sendiri.

Berapa tahun hidupmu? Sudah panjang kan. Banyak sekali kejadian yang sudah dialami. Banyak kenangan yang kamu anggap berkesan. Tapi jangan menuliskan kejadian-kejadian itu secara runut dan detail, cukup ambil saja bagian penting yang menguatkan plot dan cerita. Tidak usah kamu masukkan semua kejadian secara runut dan detail hanya karena memang begitulah kejadian yang sebenarnya. Bisa-bisa malah pembaca bosan, merasa adegan-adegan itu tidak penting, dan ketika dihapus pun tidak menganggu jalannya cerita, atau bahkan ketika dihapus malah membuat cerita enak dibaca.

Contoh sederhana: bangun tidur, mandi, sarapan, perjalanan ke sekolah bertemu tukang sayur, menunggu bus, macet, lari-lari menuju gerbang, ditahan BK, lalu masuk kelas terlambat.

Dari runutan kejadian itu, ambil yang menariknya saja.

Lalu timbul pertanyaan, kalau tidak ditulis dengan runut nanti ceritanya bolong dong?

Yang dimaksud jangan memasukkan detail runutannya di sini adalah membuang kejadian yang tidak penting. Bukan alur yang melompat. Artinya kalau semua kejadian itu memang penting untuk membangun sebab akibat, tentu harus dimasukkan. Biasanya penulis dari kisah nyata ingin menuliskan cerita “Apa adanya” meskipun kejadian-kejadian yang tidak penting sekalipun untuk menjaga keaslian cerita. Kalau kamu membuang sebuah kejadian dan setelah dibaca ternyata ceritanya bolong, berarti yang kamu buang adalah kejadian penting. Tidak memasukkan runutan kejadian seperti aslinya bukan berarti menghilangkan detail. Detail-detail penting tentu saja harus dimasukkan. Kejadian yang memiliki detail penting itu berarti termasuk kejadian penting.

Bagaimana membedakan kejadian penting dan tidak?

Membedakan kejadian penting dan tidak, caranya kita nilai dari apakah satu kejadian itu berpengaruh banyak pada keseluruhan cerita. Apakah kalau dibuang akan membuat lubang pada cerita. Kalau tidak, buang saja.

2. Terlalu banyak tokoh

Dalam kehidupan asli kita. Tokoh-tokoh yang datang dan pergi bisa ribuan. Tidak usahlah kita menuliskan banyak-banyak tokoh hanya karena memang mereka ada dalam kehidupan kita. Hanya karena saat sebuah kejadian tokoh-tokoh itu hadir di sana. Kebanyakan tokoh akan membuat pembaca pusing. Banyak tokoh yang pada akhirnya terasa penting olehmu, padahal tidak penting dihadirkan. Bisa disiasati dengan menyatukan beberapa tokoh ke dalam satu tokoh.

Kalau kamu memang bisa menghidupkan banyak karakter itu bagus. Novelmu akan kaya. Tapi kalau malah jadi keteteran, lebih baik dihindari saja memasukkan banyak-banyak tokoh. Munculkan tokoh dengan tujuan jelas. Keberadaannya punya andil sendiri dalam cerita, bukan hadir tetapi tidak memberi kontribusi apa-apa pada cerita. Pikirkan baik-baik, apakah keberadaan tokoh itu memiliki pengaruh pada jalinan cerita atau tidak. Apakah kalau dihilangkan membuat kejanggalan atau bolong dalam cerita. Kalau tidak, lebih baik dihilangkan saja. Tidak ada hitungan pasti berapa jumlah tokoh ideal dalam novel.

Contoh sederhana: Dina ikut dalam klub teater yang anggotanya paling banyak, mencapai seratus orang. Kamu menceritakan adegan kabaret yang pemainnya dua puluh orang. Tidak usah kamu sebutkan satu per satu beserta perannya. Cukup tokoh dan peran yang penting saja.

 3. Tidak mendramatisir cerita

Karena sudah menganggap kisah hidupmu menarik, ketika ditulis tidak lagi diberi dramatisasi. Kalau memang nyatanya begitu kamu hanya perlu mengolahnya dengan pemilihan kata-kata tepat sehingga kedramatisannya sampai pada pembaca. Tapi jangan-jangan tidak begitu adanya. Karena itu dibutuhkan dramatisasi agar kesedihan, keharuan, tragedi, dan semuanya terasa oleh pembaca.

Contoh sederhana: Diceritakan kamu diputuskan oleh pacar lewat SMS. Kamu merasa sedih lalu menangis semalaman. Oke, itu memang sedih. Diputuskan saat masih sayang pasti patah hati. Tapi penyampaiannya tetap harus didramatisir. Kalau sebelumnya tidak ada pertengkaran, buatlah sebuah pertengkaran yang menyakitkan agar peristiwa putus itu menjadi drama yang benar-benar menyakitkan ketika dibaca.

Bagaimana agar dramatisasi itu tidak terasa lebay?

Mendramatisir yang tidak lebay itu membuat sesuatu menjadi lebih menarik dari aslinya. Bagaimana supaya tidak lebay? Takarannya adalah masuk akal atau tidak. Sesuai logika atau tidak. Mendramatisir bukan melebaykan atau hiperbola. Menambahkan bumbu agar lebih sedap. Beda lagi kalau menulis komedi yang memang sengaja dibuat hiperbola. Mendramatisir tadi itu bisa dengan kekuatan kata-kata, misalnya pemakaian diksi. Sebenernya yang bikin kita ngerasa cerita menjadi lebay salah satunya karena cerita terasa gak masuk akal alias kebanyakan serba kebetulan. Karena itu dramatisasi tetap harus berpegang pada logika cerita.

Sejauh apa kita boleh menambahkan cerita tambahan untuk mendramatisir cerita yang kita tulis?

Sejauh mendukung plot cerita, sejauh tidak keluar dari substansi cerita, sejauh masih masuk dalam logika cerita, dan sejauh membuat cerita menjadi semakin menarik. Artinya dramatisasi yang tidak terasa mengada-ada.

4. Menjejalkan konflik ke dalam cerita

Menulis novel konfliknya memang banyak dan berlapis, tetapi konflik kalau semua konflik dimasukkan, mau bagaimana ceritanya. Tetap harus berpegangan pada konflik utama dan konflik-konflik kecil yang mendukung konflik utama tersebut. Kita harus memilih fokus konflik dan cerita.

Bagaimana memilih satu konflik dari sekian banyak konflik dalam hidup kita?
Sementara konflik yang kita alami dalam hidup ini begitu banyak, sementara kalau kita memilih beberapa takutnya ujung-ujungnya malah jadi blur.

Dalam hidup kita memang banyak banget konflik. Rasa-rasanya semuanya dasyat.
Menurut saya, pilih satu konflik paling “dasyat”. Konflik terbesar itu adalah konflik yang paling “Mengubah” hidup dan karakter kita. Sebuah konflik yang menjadi titik perubahan paling besar. Konflik itu menjadi konflik utama. Lalu di antara konflik yang berseliweran itu pilih konflik-koflik kecil yang mengacu pada utama tadi, jadi ceritanya gak blur.

Bolehkan mengangkat dua konflik besar?

Boleh saja mengangkat 2 konflik besar. Karena konflik besar dalam hidup kita itu memang super banyak. Yang harus diingat adalah konflik itu harus diselesaikan. Artinya kita menakar apakah kita bisa menuliskan beberapa konflik besar dengan penyelesaiannya yang mulus.

Tetap harus menentukan konflik besar utamanya dulu sebagai pegangan dari awal sampai ending. Konflik-konflik yang satu per satu selesai itu adalah konflik kecil yang mendukung konflik utama.

Bagaimana menyelesaikan konflik yang kita sendiri belum mengetahui hasil akhirnya dalam hidup kita?

Kita menulis novel berdasar kisah pribadi, bukan menulis biografi. Karena itu ending cerita di sini bisa kita reka tanpa menunggu hasil akhirnya dalam hidup kita sendiri.

 5. Karakter  tokoh yang tidak jelas

Tokoh-tokoh dalam novel kurang bahkan tidak jelas pengkarakterannya. Hal ini bisa terjadi karena sebagai penulis merasa sangat mengenal si tokoh-tokoh sehingga penggambaran tokoh-tokoh itu tidak ditulis jelas. Penulis lupa kalau pembaca tidak mengenal mereka. Jadi, gambarkan karakter tokoh dengan jelas. Jelas secara fisik, sifat, bahkan gimik. Gimik di sini adalah kebiasaan-kebiasaan kecil yang menjadi ciri khas tokoh. Misalnya ketika gugup selalu menggigiti kuku.

Pemeran utama yang biasanya diambil dari karakter diri sendiri digambarkan cukup sempurna dibanding yang lain. Tokoh sempurna itu membosankan, tidak dekat dengan pembaca. Hindari membuat tokoh yang cukup sempurna ini. Jangan lupa teliti menuliskan nama samaran kalau memang kamu niatnya menyamarkan. Karena kadang-kadang penulis kepeleset menuliskan nama aslinya.

Pemeran utama novel kita tidak harus kita sendiri. Boleh siapa saja, termasuk hanya tokoh rekaan yang tidak ada dalam kehidupan nyata kita. Karena ini bukan buku biografi, ini novel fiksi yang ide dasar atau ceritanya diambil dari kisah pribadi penulis.

Bagaimana caranya agar kita bisa memasukan sifat jelek kita pada tokoh utama—yang sebenarnya adalah kita sendiri—karena biasanya kecenderungan kita tokoh utama itu pengennya yang baik-baik saja—apalagi itu kita sendiri?

Buat daftar sifat-sifat bagus dan jelek kita. Buat seimbang antara sifat jelek dan bagus. Bisa dipilih sifat-sifat jeleknya. Ingat bahwa memberi sifat jelek pada tokoh utama adalah penguatan karakter, sebuah penyempurnaan. Tokoh utama dengan sifat jelek adalah karakter sempurna karena ketidaksempurnaannya. Jangan takut membuat pembaca sebal pada tokoh utama karena punya sifat-sifat jelek. Kita ceritakan latar belakang kenapa dia memiliki sifat begitu, sehingga pembaca bisa berbalik simpati.

Menulis novel dari kisah pribadi bukan berarti mentah-mentah memasukan cerita hidup kita sebagai penulisnya dengan apa adanya. Bisa jadi hanya ide dasar atau saripatinya saja.

Catatan ini hasil dari pengamatan saya terhadap novel-novel yang dibuat berdasarkan kisah pribadi penulisnya. Ditambah dengan hasil diskusi dengan teman-teman. Semoga catatan kecil ini bisa bermanfaat.

Advertisements

69 thoughts on “5 Kesalahan Penulis yang Menuliskan Kisah Pribadinya.

  1. novel yg ingin kita tulis itu kisah tntang kehidupan nyta kita sndiri. Sedangkan dlm khidupan nyta kita sndiri blm mndapatkan sebuah kepastian atau untuk sbuah akhir dari novel yg kita tulis tu bisa kita bersambungkan atau kita harus menunggu???

    • Karena belum selesai, tulis saja sebagian dari hidup kita. Karena belum ada akhirnya, ending cerita bisa dipotong sesuai akhir kisah ita di bagian itu. Atau dibuat sesuai keinginan kita yang artinya difiksikan. Bisa juga kita bikin sekuel bersambung ^^

  2. mantafff…. pinter ngolah artikelny niih gan ^_^ it tp klo misal uda terbit akankh bisa ada embel2 “berdasarkan kisah nyata” ??

  3. Kalau bentuknya bukan dialog antara tokoh-tokoh, tetapi lebih kepada penulis sebagai orang ketiga yang menceritakan tentang kisah hidupnya atau kisah orang lain ke dalam tulisan berbentuk novel apakah bisa Mba?
    Hanya menceritakan seseorang, misal:
    “Lelaki itu menemui kekasihnya di tempat yang sudah ditentukan sebelumnya, tanpa sadar ada seseorang mantan yang dulu sudah lama dia lupakan ternyata hadir di hadapannya, …” dan seterusnya .. tapi hanya bercerita seperti itu tanpa dialog,
    mohon pencerahannya Mba 🙂

      • Hai teh apa kabar? Thank”s reply nya teh 🙂

        Iya teh sepertinya maksud Junni itu, Narasi.. Pernah Saya baca novel Nonfiksi (pengembangan diri) tentang kehidupan penulis dgn orang disekitar..itu hanya menceritakan saja, walaupun ada dialog,itu paling 2:100 … Tapi itu novel bukan cerpen teh, apakah yg penting ada dialog walau cuma 1 atau 2 dialog dari setengah buku misal ??

  4. Hai teh apa kabar? Thank”s reply nya teh 🙂

    Iya teh sepertinya maksud Junni itu, Narasi.. Pernah Saya baca novel Nonfiksi (pengembangan diri) tentang kehidupan penulis dgn orang disekitar..itu hanya menceritakan saja, walaupun ada dialog,itu paling 2:100 … Tapi itu novel bukan cerpen teh, apakah yg penting ada dialog walau cuma 1 atau 2 dialog dari setengah buku misal ??

    • Owh maaf Saya salah memahami arti novel 😦
      Personal literature berarti teh yang Saya maksud itu..
      Sekian lama berjuang mencari novel apa yg dialognya sedikit, baru dapat sekarang jawabannya 🙂
      Thanks banget teh infonya, ilmunya bermanfaat semoga berkah
      Aamiin

      Salam
      🙂

  5. betul mba bahkan saya kalau nulis walaupun menceritakan perjalanan wisata misalnya kadang terjebak dengan runutan malah jadi panjang cuma waktu dibaca malah membosankan, terimakasih masukanya

  6. Waah makasih banget nih kk udah sharing ilu disini, btw kk punya dua dunia juga ya ? Kalo aku sepuluh dong 😀 heheh engga deng 12 Juta dunia . ahahah . aku seperti ada di mana mana fikiran ide fantasi impian, angan aangan dan realita seperti berhamparan di dalam kepala yang ukurannya tidak begitu besar untuk menampung semua iitu 😀 Salam Jurnalis

    Nugraha

  7. makasih banget teh info nya sangat berguna.
    smoga rencana dan impian saya jadi penulis bisa terlaksana dan tercapai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s