Gadis Matahariku – Amaya Kim

Gadis Matahariku Amaya Kim.

 

amayakim

Dear Amaya, sebelum benar-benar mengenalmu, entah kenapa aku merasakan sebuah chemistry ketika membaca postinganmu di kelas kita. Posting tentang penulisan itu sangat apik—meskipun aku sudah lupa isinya apa. Tapi aku tidak berani mengenalmu secara langsung. Ya, ini aneh, kuulangi lagi ANEH! Karena biasanya ketika aku merasakan chemistry dengan seseorang aku akan berusaha mengenalnya. Tapi padamu ada sebuah keraguan yang tidak bisa kujabarkan, yang sepertinya takut ada penolakan. Pikiran bodoh, ya ^^

Aku masih setia mengikuti beberapa postinganmu sebelum tiba-tiba kamu menghilang, juga selalu memberi “Like” tanpa mampu berkomentar. Lalu hidup ini memang selalu memberi jalan perkenalan yang ajaib. Ketika sharing tentang pembuatan novel dengan teman kita “Dion”, dia menyarankanku untuk memintamu menjadi first reader. Katanya kamu memberi saran yang tidak bisa dia ceritakan dengan kata, pokoknya “WAH”.  Dengan catatan kalau kamu sedang tidak sibuk, katanya. Aku semakin tertarik. Bukan karena menginginkan saran-saranmu, tapi memang semakin ingin mengenal pribadimu.

Aku memberanikan diri meng-add-mu di FB dan memberi pesan. Esoknya pertemanan itu kamu iyakan. Senang sekali rasanya, apalagi kamu mau menjadi first reader-ku. Saat itu aku masih menulis ulang, baru selesai beberapa bab saja. Dengan kepercayaan diri rendah, aku mengirimkan ke emailmu.

Setelah itu mulailah kita saling berkirim pesan singkat. Dari obrolan penulisan sampai pribadi. Kita berbagi kisah pahit manisnya hidup. Amaya, aku sangat terkesan dengan pribadimu yang mengagumkan. Kerendahan hati, semangat, dan segalanya sangat menyentuh. Aku merasa beruntung bisa menjadi bagian dari hiupmu, meskipun masih dalam bentuk maya.

Amaya, aku tahu kamu tak suka menjadi maya. Karena kamu sangat senang ketika teman-temanmu memanggilmu A-Maya dari nama panjang yang kamu katakan kalau dirapal bisa sebagai mantra obat sakit perut. Bagiku kamu bukan sesuatu yang maya, Amaya. Kamu sangat istimewa.

Lalu suatu hari, di saat aku (lagi-lagi) hampir menyerah membereskan penulisan novel, aku mendapat sebuah pesan singkat darimu. Isinya kira-kira begini: jangan menulis untuk membuat orang lain terkesan, tapi menulislah untuk kesenangan.

Amaya, kamu pasti tidak tahu, bahwa setelah menerima pesan singkat itu aku menangis tersedu-sedu sampai hampir satu jaman. Aku merasa kembali diingatkan akan tujuan awalku untuk menulis. Menulis karena panggilan hati, panggilan jiwa, menulis untuk kesenangan, kebahagiaan. Menulis sebagai wujud taman bermain tanpa batasan waktu, dan sekat tempat.

Adegan tadi itu persis seperti adegan dalam novel Dunia Trisa ketika Trisa kehilangan semangat dan tujuannya menjadi seorang artis. Lalu dia mengingat kembali bahwa sejatinya impiannya itu bukan untuk mencari popularitas atau main di banyak film dan sinetron, tetapi dia memang merasa hidup berada di dunia seni peran.

Terima kasih sudah mengingatkanku akan hal itu, Amaya.

Amaya gadis matahariku, kamu memberiku kehangatan jiwa.

Terima kasih telah menjadi sahabatku.

Teruslah bersinar, di mana pun kamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s