Dear You, si penendang bola di masa kecil

anak sd Foto dokumentasi dari gieputra.blogdetik.com

 

Dear you,

Tiba-tiba aku ingin menulis surat untukmu yang hilang belasan tahun lalu. Bagaimana keadaanmu sekarang, ya?  Semoga sehat dan bahagia.

Yah, memang ada alasan kenapa tiba-tiba aku ingin menulis surat padamu. Begini ceritanya.

Pagi ini aku mengingat masa sekolah dengan segala warna dan dinamikanya. Kamu pasti tidak tahu bahwa aku begitu terobsesi dengan masa sekolah. Begitu ingin mengulang kembali menjadi anak sekolah. Tidak, tidak, tidak harus mengulang masa sekolahku dulu, tapi menjadi anak sekolah lagi, di mana pun itu. Pasti menjadi pengalaman yang kembali luar biasa seperti pengalamanku dalam nyata.

Ketika mengenang, ada satu yang mengganjal. Tak satu pun seseorang yang terasa istimewa untuk kukenang. Kenapa? Perasaanku sudah hilang berganti ingatan yang datar. Cinta telah selesai. Karena cinta yang tak selesai selalu mengundang kenangan, kerinduan, dan penyesalan. Karena benar-benar sudah usai maka segalanya terasa usang.

Lama aku berpikir, benarkah tak ada seorang pun yang bisa kukenang. Lalu hadir ingatan tentangmu di masa SD dulu. Mungkin aku kecentilan di usiaku yang baru sembilan tahun, aku sudah tertarik padamu. Kamu yang kutatap diam-diam dari celah pintu. Kamu sedang menendang bola dengan bersemangat, tampak bercahaya. Rambut pendek, mata bulat bersinar, hidung mancung, alis tebal, dan jaket kulit hitam atau sweater biru putih yang membuatmu sempurna sebagai tokoh komik yang hadir di dunia nyata.

Lalu kuketahui namamu, sekolahmu—ingat, kan, gedung sekolah kita dipakai beberapa sekolah—dari teman sekelasku yang akrab denganmu. Bahkan kalian digosipkan pacaran. Ternyata bukan hanya aku yang menyukaimu, kembaranku juga. Kamu adalah satu-satunya pria yang berhasil membuat si kembar menyukai pria yang sama.

Kita—atau tepatnya kamu, aku, dan Evi—menjadi akrab. Jam istirahat sering kita lalui bersama di perpustakaan sekolah yang baru dibuka, bahkan kamu sering menunggu kami pulang. Aku bukannya geer, tapi buat apa kamu cari perhatian di dekat kelasku usai pulang sekolah sementara kamu bisa langsung pulang. Bahkan rumah kita tidak searah.

Obrolan-obrolan konyol, senyum polos, dan banyak hal lucu terjadi di antara kita. Sadarkah kamu kalau aku selalu sengaja berada di barisan paling belakang saat upacara bendera, hanya agar bisa jelas melihatmu? Lalu ketika acara kartinian, waktu itu aku berdandan menjadi kartini kecil. Kamu menatapku beberapa detik tanpa berkedip—semoga aku tidak salah ingat.

Sayangnya, lama-lama kamu menjauh, entah apa sebabnya. Mungkin karena kita—aku, kamu, Evi, tambah teman sekelasku—digosipkan. Untuk anak SD, canggung sekali rasanya.

Lalu kamu lulus duluan. Sedih sekali waktu itu. Aku kehilanganmu di lapangan bola, kehilangan kejahilanmu, kehilangan semangat ke perpustakaan, dan sederet kehilangan yang tak terkatakan. Setelah itu kita hanya bertemu tak lebih dari tiga kali ketika kamu berkunjung ke sekolah. Kamu tampak lebih dewasa, tidak seimut dulu, dan tidak lagi menatapku. Kalau satu-satunya saat di mana aku ingin mengulang masa SD, adalah saat aku telah mengenalmu. Berharap bisa sekali lagi melihatmu menendang bola ke gawang.

Pernah aku mencarimu lewat internet. Google, Facebook, Friendster, kecuali Twitter. Tapi tidak ada jejak sama sekali. Kamu memang menghilang. Tapi aku masih berharap kamu hidup di suatu tempat.

Aku masih ingin mengetahui hidupmu setelah itu, sekedar tahu. Aku tidak akan menganggu. Karena aku tidak hidup dalam kenangan. Mungkin hidupku tidak sempurna, tapi aku tidak berkutat dengan masa lalu. Aku ingin petualangan baru tanpa menoleh ke belakang. Satu-satunya yang masih bisa kukenang hanya kamu, bukan karena ada yang tak selesai di antara kita. Tapi karena kenangan tentangmu saja yang masih bisa kukenang.

Advertisements

4 thoughts on “Dear You, si penendang bola di masa kecil

  1. Sedikit subyektif, mungkin. Tapi begitulah adanya. Saya terharu. Dan, sangat menyukai ini. Mungkin karena kemiripan “keinginan untuk menjelajahi mesin waktu demi menjejak masa lalu sesingkat yang diizinkan” itu ^_^
    Satu yang menarik perhatian saya *teuteup*: telling style-nya Teh Eva yang–entah bagaimana–membuat saya merasa belum pernah membaca Love Puzzle 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s