[Cerpen] “Orang Asing” Bagian 2 – Dimuat di Batak Pos, Sabtu 22 Desember 2012

[Foto milik pribadi]

[Foto milik pribadi]

Orang Asing

Eva Sri Rahayu

 

Lamunanku selesai saat menginjakkan kaki di gedung pertunjukkan. Aku duduk di tempat VVIP, hingga leluasa menonton. Malam ini Dean tampil sempurna, aura panggung membuatnya bercahaya. Dean menemukan passion-nya, menjalani hidup impiannya. Ada haru merayap, pria itu mencintaiku dengan segenap jiwanya. Ya, aku yakin dia mencintaiku. Perlakuannya padaku istimewa, dan rasa itu disampaikannya dengan baik, hingga aku menyadarinya.

“Selamat, Dean,” kataku sembari menyerahkan rangkaian bunga ke tangannya.

Dean menerima bunga itu, ucapnya, “Sadarkah kamu, kedatanganmu adalah energi terbesar untukku. Pertunjukkan tadi kuhadiahkan untukmu. Ah tidak, kamu berhak mendapatkan lebih.” Dia tersenyum tulus.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan mengenal Dean, ada aliran hangat menyusup dalam hatiku. Aku benci mengakui itu. Lalu keheningan hadir di antara kami, hanya suara ac mobil sebagai musik pengiring.

“Rasi ….” Mendengar Dean menyebut namaku lembut, aku mendongak menatap matanya. Dean tiba-tiba mencium keningku. Muncul sensasi baru, debaran jantung yang kutunggu itu hadir, semakin tidak teratur. Mungkinkah Dean berhasil mentrasfer cintanya. Tidak mungkin, ini pastilah lagi-lagi cinta palsu.

“Aku mencintaimu,” bisik Dean di telingaku. “Tak usah kamu jawab, aku tahu kamu butuh waktu,” ucapnya lagi, saat menangkap keraguan di mataku.

***

Sudah lama aku tak merasa sebimbang ini. Cinta memang makhluk menyebalkan, suka menyamar, dan menghilangkan keseimbangan. Saat aku sibuk mereka hati, Dean menelponku.

“Rasi, aku menciptakan lagu untukmu. Maaf, ya, kamu bukan pendengar pertama. Produserku setuju lagu ini akan dijadikan single.” Dean bersemangat. Keceriaannya kadang menenggelamkanku, tapi kali ini aku merasakan hal yang sama.

“O, ya. Aku ingin dengar.” Seandainya aku tidak yakin sedang sendirian, aku tidak akan percaya bahwa kalimat dengan nada bahagia itu terucap dari bibirku.

“Tunggu, aku ngambil gitar dulu.” Beberapa detik tidak terdengar apapun. “Judulnya ada aku.” Lalu petikan gitar mengalun.

Berdiri sendiri di atas luka. Aku tahu kamu memang sepi itu sendiri.

Kuminta lelahmu, biar kita berbagi takdir. Sedetik saja percaya aku.

Aku ada untukmu, hapus hampa serupa hujan. Mari kita buat jejak yang tak terhapus masa. Ada aku, tempatmu pulang ….

Suaranya jernih melenakan. Menggetarkan hingga ke jiwa. Kali ini, bolehkan aku mempercayai diriku, cintaku.

“Gimana?” tanya Dean. Aku diam, tidak menanggapi pertanyaannya. Kehilangan kata-kata, sepertinya huruf-huruf enggan terangkai. “Rasi, kamu baik-baik aja? Masih ada di sana?”

“Lagunya indah,” jawabku pendek, ketika akhirnya bisa mengucapkan sesuatu. Satu kalimat yang membahagiakan Dean.

“Rasi, aku pengen ketemu kamu sekarang, bolehkah?”

“Ya.”

“Di kafe tempat kita pertama ketemu, aku tunggu setengah jam lagi, jangan terlambat.” Keriangan Dean kadang membuatnya tampak seperti anak kecil, sekaligus membuatku merasa sangat berarti.

Setelah tiga tahun tenggelam dalam rasa hambar, kuputuskan untuk mencintai.

***

Aku menatap Dean tak percaya, sungguhkah pengelihatanku. Pria di depanku ini sangat berbeda dengan Dean yang kukenal. Wajahnya begitu murung, lebih dari awan mendung. Lebih anehnya, dia tidak mengenalku.

“Rasi? Aku tidak punya teman bernama Rasi. Tinggalkan aku! Aku hanya ingin sendiri!” katanya kasar. Aku mundur beberapa langkah. Tapi tidak pergi, hanya menatapnya jengah.

Dean menatap ke luar jendela, tapi tatapannya kosong. Tangannya gemetar saat mengambil gelas berisi kopi, hingga sedikit tumpah. Diambilnya tisu dengan kesal. Tiba-tiba dia menangis sesegukan. Kemudian dia sadar kuperhatikan, kini Dean menatapku penuh kebencian. Kali ini cukup membuatku tak ingin melihatnya lagi seumur hidup!

***

Hampir tiga bulan aku tidak bertemu dengan Dean. Kami lost contact begitu saja, sepertinya di antara kami tidak ada niat saling menghubungi. Aku merasa disia-siakan. Ternyata cinta dalam hidupku memang tak ada. Seharusnya dari awal aku tidak usah membiarkan diri untuk mencintai lagi. Hingga tiba-tiba hari ini dia hadir kembali, mengusikku.

Hujan turun sedari pagi, tanah lembab menguar bau yang khas. Dari balik pintu, kudapati Dean dengan keadaan basah dan kacau. Matanya menyampaikan kerinduan yang dalam. Saat melihatku, dengan spontan dia memelukku erat, seakan tak ingin lagi terlepas. ”Rasi ….”

“De … an … se … sak ….”

Dia melepaskan pelukannya. “Maaf.”

Setelah duduk dengan handuk di kepalanya, Dean menjelaskan semua tanya yang tersisa dari pertemuan terakhir kami. Tahulah aku, kalau Dean memiliki kepribadian ganda. Saat pribadinya yang lain muncul, ingatannya hilang.

“Waktu kecil, aku sering disiksa oleh Ayahku. Aku tumbuh menjadi pribadi yang tertutup dan murung di rumah, tapi ceria dan disukai semua orang di luar. Sampai aku dewasa seperti sekarang, tak ada lagi sekat antara rumah dan dunia luar. Aku bebas. Hal itu justru membuatku bisa kambuh kapan saja. Tolong aku Rasi, jangan pergi.” Dean terisak putus asa, sementara aku menanggapinya dengan wajah datar.

“Kenapa kamu bisa melupakanku? Kenapa aku? Apa aku tidak penting hingga bisa kamu lupakan?”

Dean tercekat mendengar pertanyaanku, ada sayatan yang hadir di hatinya. “Bukan mauku, Rasi. Itu terjadi begitu saja. Aku … justru kukira karena kamulah yang terpenting dalam hidupku.” Matanya menatap nanar.

Aku ingin memeluk Dean, ingin meringankan bebannya, tapi yang terjadi, aku bersikap begitu dingin. Sudah lama aku tidak pernah mengeluarkan air mata. Hatiku terlalu beku.

“Suatu hari, aku akan menetap pada satu pribadi saja. Aku tidak mau hidup sebagai pesimis.” Dean tergugu lagi, ditutupnya muka dengan kedua tangan.

Tatapanku jatuh pada tangan Dean, ada guratan-guratan luka di sana. Perlahan aku menyentuhnya. “Ini?”

Dean mengangkat wajahnya untuk menatapku. “Bekas percobaan bunuh diri.”

Terbesit pikiran jahat di kepalaku. Apakah aku mau menghabiskan sisa hidupku untuk pria ini. Lelaki yang sakit, yang bahkan bisa melupakanku kapan saja. Cinta, tak cukup membuatku ingin menyerahkan hidup dan masa depan padanya. Naluriku benar, lagi-lagi, cintaku palsu, mudah layu.

***

Ada fase dalam mengenal seseorang. Awalnya dia adalah orang asing, kemudian mengenalnya, lalu dekat, berhubungan. Muncul cabang, apakah dia akan terus menjadi bagian hidup kita atau berakhir, kembali menjadi orang asing.

Aku tidak bisa membohongi hati nurani, bahwa aku mencintai Dean itu benar. Tapi cinta memiliki batas waktu, setidaknya bagiku. Untukku, cinta yang tidak memiliki terasa lebih memorable. Maka aku memilih mengabadikan cintaku dan Dean dalam tulisan. Karena cinta memiliki limit, biar kutentukan sendiri waktunya. Kuakhiri secepat aku bisa.

Lalu hari ini, aku duduk di tempat favoritku. Sebuah kebetulan, Dean ada di sana, duduk menghadap padaku di meja yang berbeda. Beberapa wartawan mengelilinginya.

“Dean, lagu ‘Ada Aku’ itu terinspirasi dari seseorang yang spesialkah?” tanya salah satu wartawan.

“Bukan hanya terinspirasi, tapi lagu itu memang diciptakan untuk seseorang,” jawabnya dengan wajah murung sembari menatap wartawan yang bertanya. Tak ada binar di matanya.

Para wartawan itu langsung heboh mendengar jawaban Dean.

“Siapa gadis itu?” tanya wartawan lainnya.

“Aku tidak tahu, yang aku tahu, hanyalah aku menciptakannya untuk seseorang,” dari nada bicaranya, Dean berkata jujur. Rupanya dia benar-benar tidak mengingatku. Dia bahkan tak menyadari keberadaanku di sini sekarang. Pribadi lainnya telah mengambil alih Dean sepenuhnya. Lebih cepat dari perkiraan, luka karena hati patahlah yang membuat itu terjadi.

Hari itu, aku ingin mengatakan pada Dean: kamu boleh melupakan siapapun, tapi jangan pernah melupakan aku. Tapi aku justru meninggalkannya. Dean kini telah menjadi orang asing. Itulah konsekuensi dari pilihanku. Tiba-tiba kurasakan cairan bening turun dari mataku, membasahi pipi. Aku mengusapnya, kemudian menatap takjub air mata itu, seakan bukan berasal dari diriku. Cinta, apakah cinta yang menyebabkannya. Aku tak tahu, hanya nyeri yang kurasa merambat dari dadaku ke sekujur tubuh. Lalu mual itu menghilang.

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s