[Cerpen] “Orang Asing” Bagian 1 – Dimuat di Batak Pos, Sabtu 15 Desember 2012

[Foto dokumentasi milik pribadi]

[Foto dokumentasi milik pribadi]

Orang Asing

Eva Sri Rahayu

 

Aku menatap layar komputer dalam diam. Tanganku tersimpan di pangkuan. Sudah lebih dari tiga jam aku bersikap seperti itu. Tidak ada satu kata pun berhasil kutulis, buntu. Ada sesak menyergap, lalu berganti rasa mual hebat. Tentu saja, dengan gaya hidup serampangan, tubuhku mudah terkena penyakit. Tapi kali ini bukan perkara biasa. Bukan sekedar migrain atau mata perih. Mual ini muncul karena depresi. Stres berkepanjangan karena tidak lagi bisa berkarya, dan mati rasa dalam segala hal. Fase tidak lagi merasa hidup dan ada, lebih buruk dari segala hal yang pernah kulewati.

Aku meneguk kopi dari cangkir yang selalu kusimpan di sebelah laptop di tempat kerja mungilku. Di sinilah beberapa novel tercipta, yang kemudian menghiasi rak-rak buku di toko, mengispirasi pembaca setia dengan kisah di dalamnya. Ironis. Saat mereka begitu mencintai keberadaanku, aku sendiri justru merasa hilang. Kuputuskan menutup laptop, beralih ke kamar. Tidur adalah satu-satunya saat aku merasa hadir bukan sebagai mitos. Kesenangan dari sebuah ketidaksadaran. Biarlah mimpi mengambil alih hidup sesungguhnya. Biar mimpi membawaku pada petualangan tanpa harus direka.

***

Tidak salah lagi, pria itu memang sedang menatapku dengan mata beningnya. Sebenarnya aku tidak sengaja bersitatap dengannya. Posisi kami yang saling berhadapan di meja yang berbeda sangat memungkinkan untuk saling melihat dengan leluasa. Tapi sikapnya yang tidak wajar, dengan selalu kikuk saat mata kami bertemu, cukup meyakinkanku kalau pria itu menaruh perhatian.

Pria itu duduk bertiga dengan dua wanita seumurannya. Asik berbincang, sesekali tertawa keras. Dari ekspresi dan gerak tubuhnya, sekilas saja orang bisa menerka sifat periang pria itu. Menjadi pusat perhatian tampaknya adalah makanan sehari-hari baginya.

Aku tidak merasa terganggu oleh sikapnya, diperhatikan banyak pria bagiku sudah biasa. Tapi pria itu membuatku ingin mengenalnya. Jauh dalam binar sorot mantanya, aku melihat luka. Ada sakit yang sama, perih yang menindih, mencekik hingga luka tak lagi bisa bersuara. Pria itu menutupinya dengan keriangan, bertolak belakang denganku yang memilih apa adanya. Mungkinkah dia merasakan hal yang sama, hingga luka menjadi magnet untuk menjatuhkan tatapan. Dua orang pesakitan bertemu, saling menyembuhkan. Klise yang terlalu utopis.

Nyatanya aku memutuskan menjadikan pria itu objek tulisan. Dengan terang-terangan aku mengundangnya masuk dalam hidupku lewat pandangan yang menantang. Sinyal itu ditangkapnya. Setelah berjam-jam berbagi cerita dengan dua wanita yang entah siapanya itu, dia mendatangiku ketika keduanya beranjak.  “Boleh gabung?” Suara merdu pria itu menggumamkan basa-basi.

Aku mengangguk mempersilakan. Dia tersenyum ramah.

“Sering ke sini?” tanyanya lagi, kali ini membuka percakapan.

Aku memperhatikan bentuk wajahnya yang bulat, bibir merah tipis, alis tebal, dan rambut ikal. Wajah itu tampan dan manis, seandainya warna kulit yang membalut tubuh atletisnya tidak kecoklatan, aku sudah mengira dia anggota boyband. “Baru pertama, kamu?”

“Dean. Kalau aku sudah sering ke sini. Tempatnya asik, cocok buat nulis.” Yang dia maksud dengan kegiatan menulis itu sudah tentu bukan untuknya. Karena matanya melirik laptopku, tanda sedang menebak apa yang sedang kulakukan, dan tebakannya benar.

Tidak sulit mengenalnya lebih dekat, Dean terlalu terbuka pada orang baru. Dalam waktu setengah jam saja aku sudah mengetahui profesinya sebagai aktor drama musikal, saat ini sedang merintis karir penyanyi solo, dan kedatangannya ke Bandung sekedar lari dari rutinitas pekerjaan sekaligus orang-orang sekeliling yang disebutnya fake. Aku tidak banyak membagi keterangan mengenai diriku. Rumus memberi kepercayaan sama besar sudah tidak berlaku dalam hidupku yang sinis. Kami bertukar pin dan no telpon, lalu pulang larut malam dengan mobil masing-masing. Sangat biasa. Bukan perkenalan ajaib seperti dalam film.

Sebelum tidur, aku mengingat senyum Dean dan sentuhan tangannya. Tidak ada listrik yang ditransformasi lewat pori-porinya. Juga tidak ada debaran halus bagai ilusi. Tapi magnet yang bersarang di tubuhnya terus menarikku masuk lebih dalam dan dalam.

***

Mual itu datang lagi, semakin sering dengan durasi lebih panjang. Dengan perasaan kecewa aku menutup laptop. Kali ini satu paragraf berhasil kutulis dalam waktu lebih dari lima jam. Mungkin sebagai penulis, sebentar lagi aku akan mati. Seperti pemain sepakbola menggantung sepatunya. Aku ingin membuat Dean sebagai sumber inspirasi, tapi tidak tertuang apa-apa dari dirinya di layar komputerku. Rasa tawar terlalu pekat menyumbat.

Aku mematikan laptop, bersiap pergi ke pementasan drama musikal dimana Dean bergabung. Bukan sebagai peran utama, tapi cukup penting. Aku mengenakan cocktail dress hijau dipadu clutch warna senada. Melihat pantulan sendiri di cermin, aku percaya diri bisa mempesonanya malam ini. Sejak perkenalan, sudah beberapa kali kami bertemu. Sekedar nonton, atau menikmati suasana malam. Dean mencintai malam, sama sepertiku. Melihat city light dari ketinggian membuat adrenalin kami terpacu, merasakan kehidupan masuk lewat desiran anginnya yang menimbulkan gigil.

Berkali-kali aku menemukannya sedang menatapku lekat dan lembut, seakan ingin masuk dalam pikiranku, melindungiku dari sakit yang tak kunjung enyah. Seperti mengenalku, tapi tidak tahu apa-apa, hal itu membuatnya merasa tak berarti. Setiap kali begitu, aku akan berkelakar bahwa mengenalku lebih jauh hanya menimbulkan putus asa. Sudah dua tahun aku tidak membuka diri pada pria manapun. Bukan terkekang oleh masa lalu, tapi sebuah kesadaran membuatku mengunci hati.

Tiga tahun lalu, aku hampir menikah. Sebuah pernikahan yang akan membahagiakan. Kebersamaan dengan orang yang sangat kucintai dan sangat mencintai. Kutegas kata “sangat” di sini, karena begitulah adanya. Seakan tak ada yang bisa melunturkan cinta itu. Persiapan pernikahan katanya memang selalu membuat stres, belum lagi sindrom pra nikah. Dan ya, sindrom itu datang juga padaku. Di tengah resah yang hadir tak sekedar desah, aku bertemu seseorang.

Ada banyak hal baru yang ditawarkannya. Aku jatuh cinta lagi. Cinta yang lebih besar dari cinta pada calon pengantin priaku. Aku dan pria baru itu menjalin hubungan yang menyakitkan, karena kami berdua sama-sama tahu tidak bisa bersatu. Dia kemudian lelah, begitu juga denganku. Lalu kepercayaanku pada cinta ikut luntur bersama luruhnya cintaku pada kekasih. Ternyata cinta yang sangat bisa hilang dalam bilangan detik.

Sebuah kesadaran datang, cinta bagiku adalah petualangan. Aku tidak memiliki cinta sejati yang akan kupersembahkan pada satu hati. Dibandingkan dengan orangnya, aku jauh lebih mencintai proses penemuannya. Kekecewan pada diri sendiri menghantui, menyiksa hingga ubun-ubun. Aku memutuskan hubungan dengan mereka berdua. Dan yang kudapati, aku bisa hidup baik-baik saja tanpa keduanya. Hanya rasa bersalah yang menggerogoti dan merapuhkan saat melihat mereka hancur.

Aku memiliki hati yang disinggahi cinta palsu, kemudian mati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s