Puisi – Papan karnaedis

Papan karnaedis

Suara layar terangkat
Sekoci-sekoci yang digantung
Terdorong itulah ayah menjadi pelaut
Diusianya yang keempat belas, ayah jatuh cinta pada laut
Selalu, berbulan-bulan dilaluinya menikmati lekuk liku lautan

Pada laut juga ia nyatakan kerindunya pada ibu dan aku
Sembari menyanyikan mars “Nenek moyangku seorang pelaut”
Diceritakannya padaku kisah lumba-lumba, cumi-cumi, dan ikan paus
“Apakah Ayah bertemu putri duyung?”
“Putri duyung adalah kau, karena nyanyiannya selalu mengajak para pelaut ikut berenang ke dalam lautan, ke dalam kerinduan akan rumah”

Laut dan daratan selalu saling merindukan
Saling berpagutan di bibir pantai
Laut adalah hidup, ombak saling berbentur, melarut, terbawa pusaran gelombang arus panas dan dingin

Suatu hari ayah pulang dengan muka pucat, tanpa kisah tentang bajak laut, mercu suar, atau negeri dongeng yang disinggahinya
“Papan Karnaedis!” katanya parau
Diceritakannya tentang harta karun yang ditemukan awak kapal
Tentang kerakusan dan pembunuhan
Tentang dirinya yang terseret tragedi penyelamatan diri
Hukum papan karnaedis!

Diusiaku yang ke lima belas, aku ikut Ayah berlayar
Pertama kali melihat jangkar dilepaskan
Melihat ikan-ikan menggelepar di geladak
Diam-diam beberapa kulepaskan ke lautan, pada hidup

Hari ke tiga belas
Lempengan laut bergeser, terjadi gempa besar
Ombak menghantam kapal dan menjadikannya partikel
Terlalu tiba-tiba, cepat, singkat

Aku melayang bagai buih
Dalam air yang dingin, beku bagai es
Laut begitu gelap
Apa hidup itu memang gelap, Ayah?

Dialah ayah, memberiku napas hingga tersadar
Membawaku ke permukaan
Ayah kenapa? Bukankah laut itu hidup?
Kenapa tidak kau biarkan saja hidup merenggut kita?
Memeluk kita dalam keabadian

Disandarkannya aku pada sepotong kayu yang tersisa dari badan kapal
Sementara ia hanya berpegang pada sisinya
Badannya yang kekar ia biarkan dilumat air

Dari dalam air bermunculan kepala-kepala dan tangan-tangan yang menggapai
Kayu itu tidak bisa menahan berat kami, oleng
Mata-mata nyalang menatapku buas, menyingkirkanku tanpa kata
Benarkah mereka yang berbagi kabin denganku?
Ayah bergulat, saling hempas, saling cakar
Ayah seperti nakhoda yang memutuskan akan ke mana arah kapal berlayar, hakim nasib
Gelombang datang lagi, menghantam
Putus asa, inikah wujud sebenarnya dari papan karnaedis?
Ayahku pelaut yang egois
Ayah tidak tahu betapa aku merindukan laut, merindukan hidup yang yang kini telah ia renggut dariku

Terapung berhari-hari sendirian
Pasrah pada takdir akan membawa
Mercusuar begitu silau, suara peluit panjang, kapal yang mendekat
Lalu daratan … rata

Ayah, laut ternyata bukan kehidupan
Laut juga menyimpan jutaan cerita kematian
Lalu aku seperti mendengar suara ayah bernyanyi lewat dengung kapal yang berangkat berlayar

Bandung, entah tahun berapa.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s